Peresmian Pusat Adat Simardangiang, Pemkab Taput Dorong Hilirisasi Kemenyan Berbasis Adat

DAERAH95 Dilihat

TAPANULI UTARA — Kamis 12 Febuari 2026 Ribaknews.id

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara meresmikan Pusat Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini dirangkai dengan peluncuran buku tentang kemenyan di Tapanuli serta syukuran masyarakat atas terlewatinya bencana alam yang sebelumnya berdampak pada wilayah tersebut.

Peresmian dihadiri langsung Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, Ketua MHA Simardangiang Tampan Sitompul, Direktur Green Justice Indonesia (GJI) Panut Hadisiswoyo, perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), serta tokoh adat dan tokoh agama setempat.

Dalam sambutannya, Bupati menilai keberadaan pusat adat menjadi simbol penguatan identitas masyarakat sekaligus ruang pelestarian nilai budaya Batak. Ia menegaskan bahwa pengembangan adat harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat, khususnya melalui pengelolaan komoditas kemenyan yang selama ini menjadi salah satu potensi unggulan Tapanuli Utara.

Menurutnya, hilirisasi produk kemenyan perlu didorong agar memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pemerintah daerah, kata dia, akan mendukung pembentukan kelompok usaha serta membuka akses pemasaran melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Usai peresmian, Bupati juga meninjau alat penyulingan kemenyan yang digunakan sebagai bahan baku parfum dan meminta agar fasilitas tersebut dirawat serta dimanfaatkan secara optimal.

Selain aspek ekonomi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya pelestarian lingkungan. Bupati mengajak masyarakat menanam minimal satu pohon kemenyan sebagai langkah penghijauan sekaligus menjaga keberlanjutan hutan adat. Ia berharap Simardangiang dapat menjadi contoh penguatan masyarakat hukum adat berbasis pelestarian hutan dan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Ketua MHA Simardangiang, Tampan Sitompul, menyampaikan bahwa pusat adat diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda dalam menjaga nilai-nilai leluhur. Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen lahan persawahan warga mengalami kerusakan akibat bencana, sehingga kemenyan kini menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.

Sementara itu, perwakilan AMAN Tapanuli Utara, Edward Siregar, mengingatkan pentingnya pemanfaatan alam secara bijak tanpa eksploitasi berlebihan. Direktur GJI Panut Hadisiswoyo menambahkan bahwa pusat adat bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol perjalanan panjang masyarakat adat dalam menjaga ruang hidup yang sehat.

Peresmian pusat adat ini menunjukkan kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas adat, dan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong pembangunan berbasis tradisi serta pelestarian lingkungan di Tapanuli Utara.

Diterbitkan Media Ribak News
Penulis: Jonaer Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *