DOLOKSANGGUL — Sabtu 18 April 2026. Ribaknews.id
Pagi itu, udara Desa Siborutorop terasa lebih hidup dari biasanya. Di tengah lanskap perbukitan yang tenang, suara musik, tawa, dan tepuk tangan perlahan menyatu dengan semilir angin. Bukan sekadar keramaian biasa—hari itu, pelajar UPT SMPN 025 Siborutorop sedang merayakan sesuatu yang lebih dari sekadar pentas seni.
Mereka merayakan pertemuan antara nalar, seni, dan alam.
Sabtu, 18 April 2026, halaman sekolah berubah menjadi ruang ekspresi yang terbuka. Di sana, Olimpiade MIPAS dan Pentas Seni (Pensi) digelar dalam satu tarikan napas bertajuk “Harmoni Nalar dan Seni dalam Dekapan Alam.” Sebuah tema yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga terasa nyata dalam setiap penampilan.
Dentang gong yang dipukul oleh Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, menandai dimulainya kegiatan. Suara itu menggema, seolah menjadi penanda bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas yang sunyi—ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih bebas, lebih ekspresif.
Di hadapan para siswa, guru, dan masyarakat yang hadir, hari itu menjadi panggung bersama.
Belajar Tidak Hanya dari Buku
Satu per satu penampilan mulai mengisi panggung. Dari vokal solo “Indonesia Jaya” yang menggugah semangat, hingga gerak dinamis mix modern dance yang memadukan ritme dan energi anak muda. Di sisi lain, sains show menghadirkan sisi berbeda—di mana rasa ingin tahu dan logika tampil dalam bentuk eksperimen yang memancing decak kagum.
Tidak ada batas tegas antara seni dan ilmu pengetahuan. Keduanya justru saling mengisi.
Di situlah letak keunikan kegiatan ini. Para siswa tidak hanya diminta untuk tampil, tetapi juga untuk memahami—bahwa kecerdasan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama kreativitas, empati, dan kesadaran terhadap lingkungan.
Kepala sekolah, Desmauli Lumbanbatu, M.Pd, menyadari betul pentingnya ruang seperti ini bagi para pelajar. Baginya, pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai, tetapi juga tentang membentuk manusia yang utuh.
“Anak-anak perlu ruang untuk mengekspresikan diri. Di sini mereka belajar berpikir, sekaligus merasakan dan menciptakan,” ujarnya.
Filosofi yang Tumbuh Diam-Diam
Di balik kemeriahan itu, terselip sebuah refleksi yang sederhana namun dalam—tentang “akar rumput”.
Desmauli menggambarkan guru sebagai akar yang bekerja di bawah tanah. Tidak terlihat, tidak selalu mendapat sorotan, tetapi justru menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhnya rumput hijau di permukaan.
Rumput itu adalah para siswa.
Analogi ini bukan sekadar metafora. Ia menggambarkan realitas pendidikan yang sering luput dari perhatian—bahwa proses membentuk generasi tidak selalu tampak instan. Ia berlangsung perlahan, melalui kesabaran, dedikasi, dan kerja senyap.
Dan di panggung sederhana di Siborutorop itu, hasil dari proses panjang tersebut mulai terlihat.
Panggung untuk Tumbuh Bersama
Bagi para siswa, hari itu bukan hanya tentang tampil di depan umum. Ia adalah pengalaman membangun kepercayaan diri, belajar bekerja dalam tim, dan merasakan bagaimana karya mereka diapresiasi.
Tarian “8 Etnis Nusantara” misalnya, bukan sekadar koreografi. Ia menjadi representasi keberagaman yang dirangkum dalam satu panggung. Sementara monolog “Umakku Ruma Bolon” menghadirkan sisi emosional yang mengajak penonton merenung.
Di sisi lain, fashion show hingga musikalisasi puisi “Ibu” menunjukkan bahwa ekspresi bisa hadir dalam berbagai bentuk—selama diberi ruang untuk tumbuh.
Harapan dari Sebuah Panggung Sederhana
Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, melihat kegiatan ini sebagai bagian dari proses panjang membangun generasi masa depan. Dalam pandangannya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan sosial.
“Generasi muda harus cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa capaian pendidikan di Humbahas menunjukkan perkembangan positif, dengan semakin banyak siswa yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, lebih dari sekadar angka, kegiatan seperti ini memberi makna yang tidak bisa diukur secara statistik—yakni tumbuhnya rasa percaya diri, kreativitas, dan kebersamaan.
Lebih dari Sekadar Acara Sekolah
Menjelang sore, satu per satu penampilan mulai usai. Namun suasana hangat masih terasa. Tawa, tepuk tangan, dan kebanggaan tersisa di wajah para siswa, guru, dan orang tua.
Apa yang terjadi di UPT SMPN 025 Siborutorop hari itu bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni sekolah. Ia adalah gambaran kecil tentang bagaimana pendidikan bisa menjadi ruang hidup—tempat nalar diasah, seni dirayakan, dan nilai-nilai ditanamkan.
Di tengah alam yang tenang, para siswa belajar bahwa menjadi cerdas saja tidak cukup. Mereka juga perlu peka, kreatif, dan mampu menjaga harmoni dengan lingkungan.
Dan mungkin, di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling utuh.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur














