Taput Peringati Hari Disabilitas Internasional 2025: 55 Penyandang Disabilitas Terima Bantuan Atensi dari Kemensos

“Setara Berkarya, Berdaya Tanpa Batas” Jadi Semangat Pemberdayaan di Taput

TAPUT – Minggu 07 Desember 2025 Ribaknews.id

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) tahun 2025 dengan penuh semangat inklusif melalui kegiatan yang digelar di Galeri Dekranasda Taput, Sopo Partungkoan Lantai I, Tarutung, Minggu (7/12/2025). Acara ini mengusung tema nasional “Setara Berkarya, Berdaya Tanpa Batas” dan dihadiri oleh 55 penyandang disabilitas beserta keluarga pendamping.

Pemkab Taput diwakili oleh Sekretaris Daerah Drs. Henry M.M. Sitompul, M.Si, serta Ketua TP. PKK Taput Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat, penuh interaksi, dan menegaskan pentingnya menghadirkan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya serta mendapatkan akses setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Acara diawali ibadah bersama, kemudian dilanjutkan penampilan seni anak disabilitas serta pameran produk UMKM, termasuk karya penyandang disabilitas sendiri. Pendekatan ini bukan sekadar seremoni, namun berfungsi memperlihatkan kemampuan, talenta, dan potensi ekonomi yang selama ini kurang terlihat di ruang publik.

Apresiasi Bupati Taput: Sinergi Pusat–Daerah untuk Inklusi

Dalam sambutan Bupati Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si, M.Si yang dibacakan oleh Sekda, pemerintah daerah menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Sentra Insyaf Medan yang telah memberikan perhatian nyata kepada masyarakat Taput.

> “Ini merupakan dukungan nyata bagi masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara, khususnya penyandang disabilitas. Kegiatan hari ini bukan sekadar penyerahan bantuan, tetapi simbol kuatnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sekda.

Pernyataan tersebut menunjukkan arah kebijakan Pemkab Taput yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai bagian integral dari pembangunan daerah. Tak hanya aspek sosial, namun juga pemberdayaan ekonomi yang konkret melalui dukungan berbagai paket usaha.

Peran TP. PKK: Inklusi Dimulai dari Keluarga

Ketua TP. PKK Taput, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat, menegaskan pentingnya membangun lingkungan sosial yang inklusif. Menurutnya, penyandang disabilitas bukan hanya membutuhkan alat bantu, tetapi juga ruang di tengah masyarakat.

> “Penyaluran Atensi dari Kementerian Sosial untuk Tapanuli Utara merupakan kebanggaan tersendiri. Mari kita libatkan keluarga penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan pemerintah karena mereka juga bagian dari masyarakat,” tegasnya.

Pandangan ini sejalan dengan paradigma baru pembangunan sosial: inklusi tidak cukup dengan bantuan material, tetapi harus dirangkai dengan penerimaan sosial, kesempatan berpartisipasi, dan penguatan keluarga sebagai unit pendukung utama.

55 Paket Bantuan Atensi: Dari Kursi Roda hingga Modal Usaha

Salah satu momen paling penting dalam acara ini adalah penyerahan 55 paket bantuan Atensi dari Kemensos yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas dari berbagai kecamatan di Taput.

Adapun rinciannya adalah:

9 kursi roda
3 tongkat ketiak
8 tongkat kaki tiga
13 bantuan usaha kelontong
2 alat jualan gorengan
7 alat pertanian
1 alat pangkas rambut
1 usaha kedai kopi
1 alat bengkel
5 usaha peternakan ayam
2 usaha rumah makan
2 usaha tukang jahit
1 usaha doorsmeer

Distribusi bantuan ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas kini diarahkan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas ekonomi keluarga. Pendekatan seperti ini berpotensi memutus ketergantungan dan membuka peluang usaha baru.

Ketua TP. PKK menyampaikan harapannya saat menyerahkan bantuan tersebut:

> “Semoga saudara-saudara kita ini dan keluarga tetap semangat, dan dapat berkarya dengan baik di tengah-tengah masyarakat.”

Pernyataan tersebut disertai sesi ramah tamah yang semakin mempertegas kehadiran pemerintah sebagai mitra sosial, bukan hanya pemberi bantuan.

Makna Sosial: Dari Seremoni Menjadi Gerakan Inklusif

Acara HDI di Taput tahun ini tidak hanya menjadi momen seremonial tahunan, tetapi juga titik konsolidasi kebijakan inklusi daerah. Penampilan seni anak disabilitas menunjukkan bahwa talenta mereka layak diperlihatkan, bukan disembunyikan. Sementara pameran produk UMKM memberi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu menjadi pelaku ekonomi.

Lebih jauh, keberadaan keluarga pendamping diundang sebagai peserta memberi pesan kuat: bahwa disabilitas bukan sekadar kondisi individual, tetapi realitas yang harus dihadapi keluarga bersama-sama.

Jika pemerintah mampu melanjutkan program ini dengan pendampingan berkelanjutan — seperti pelatihan usaha, perbaikan akses pasar, serta perawatan alat bantuan — maka manfaatnya tidak hanya jangka pendek, tetapi juga strategis bagi kesejahteraan masyarakat.

Taput Menuju Daerah Ramah Disabilitas

Peringatan HDI 2025 ini memperlihatkan komitmen Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menuju daerah yang lebih inklusif. Dengan dukungan Kemensos, TP. PKK, Dinas Sosial, dan stakeholder lainnya, upaya membangun masyarakat yang setara dan berdaya kini semakin terasa konkret.

Acara ini mungkin berlangsung satu hari, tetapi pesan yang dibawanya jelas untuk ke depan: penyandang disabilitas adalah bagian dari Taput, dan Taput harus tumbuh bersama mereka.

Jonaer Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed