TAPANULI UTARA – Selasa 09 Desember 2025 Ribaknews.id
Peta Rekapitulasi Sementara Kejadian Bencana di Kabupaten Tapanuli Utara per 9 Desember 2025 pukul 17.00 WIB menunjukkan skala dampak yang luas dan kompleks. Sebanyak 55 desa tercatat terdampak, dengan total 14.033 jiwa warga masuk dalam kategori terdampak langsung maupun tidak langsung. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara terus melakukan percepatan penanganan di tengah akses lapangan yang belum sepenuhnya pulih.
Korban Jiwa dan Pengungsian Meluas
Data terkini mencatat 36 korban meninggal dunia, sementara 2 orang masih dalam status hilang. Tim SAR gabungan bersama unit K9 terus melakukan pencarian di beberapa titik rawan, terutama wilayah yang tertimbun material longsor.
Sementara itu, 1.138 jiwa pengungsi kini tersebar di 13 posko yang didirikan pemerintah bersama berbagai unsur TNI, Polri, relawan, dan masyarakat lokal. Kondisi sejumlah posko cukup padat, sehingga distribusi bantuan diarahkan secara prioritas pada kebutuhan mendesak seperti air bersih, makanan siap saji, layanan kesehatan, perlengkapan tidur, serta dukungan psikososial.
Petugas kesehatan juga bersiaga untuk mengantisipasi potensi penyakit infeksi saluran pernapasan, diare, hingga penyakit kulit yang rentan muncul di lokasi pengungsian. Pemeriksaan kesehatan umum dan distribusi obat-obatan menjadi salah satu agenda harian tim medis yang ditempatkan di lapangan.
Infrastruktur Rusak Berat, Akses Banyak Terputus
Kerusakan infrastruktur yang tercatat pada peta rekapitulasi cukup masif. Setidaknya 566 rumah, baik rusak ringan, sedang, maupun berat, terdata mengalami kerusakan. Selain itu, 58 ruas jalan, 18 jembatan, serta fasilitas umum seperti sekolah, sistem irigasi pertanian, hingga titik sumber air bersih turut terdampak.
Kerusakan ini membuat sejumlah desa sempat terisolasi total. Ruas jalan yang tertutup longsor membuat suplai logistik ke posko terhambat. Untuk mengatasi situasi tersebut, pemerintah daerah mengerahkan alat berat sejak hari pertama bencana. Hingga hari ini, proses pembersihan material masih berlangsung, terutama di Kecamatan Parmonangan dan Adiankoting yang dikategorikan sebagai zona dengan dampak sangat tinggi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama karena kedua kecamatan ini menghubungkan jalur vital antarwilayah. Pemulihan akses menjadi prasyarat penting untuk memperlancar distribusi bantuan dan mempercepat proses evakuasi maupun penanganan medis.
Wilayah Terdampak Sangat Tinggi: Fokus Pengerahan Alat Berat
Peta dampak menunjukkan sebaran bencana tidak merata, dengan dua kecamatan menanggung beban kerusakan terbesar. Parmonangan dan Adiankoting menjadi fokus pengerahan alat berat akibat banyaknya titik longsor, kerusakan jembatan, serta desa yang sulit dijangkau.
Di Parmonangan, beberapa desa mencatat kehancuran rumah dan akses jalan yang cukup parah. Tim teknis Dinas PU dan BPBD melakukan penilaian struktural untuk menentukan rencana perbaikan jangka pendek ataupun rekonstruksi. Progres pembersihan material dinilai signifikan, meski beberapa titik masih membutuhkan alat tambahan.
Di Adiankoting, kerusakan fasilitas umum seperti sekolah dan irigasi pertanian berpotensi memberikan dampak lanjutan pada aktivitas warga setelah masa tanggap darurat. Pemerintah daerah mulai menyusun strategi untuk memulihkan layanan dasar, termasuk pendidikan, sanitasi, dan akses air bersih.
Pemkab Taput Percepat Penanganan
Bupati beserta seluruh jajaran Pemkab Tapanuli Utara menyatakan komitmen penuh untuk mempercepat pemulihan di seluruh titik terdampak. Pemerintah daerah mengaktifkan posko komando terpadu untuk mempercepat alur koordinasi antarinstansi, serta memantau proses distribusi bantuan agar merata dan sesuai prioritas kebutuhan lapangan.
Tim gabungan juga terus memperbarui peta risiko berdasarkan perkembangan cuaca dan potensi longsor susulan. Kehadiran relawan dari berbagai daerah turut memperkuat upaya pertolongan, mulai dari layanan medis, distribusi logistik, hingga pemulihan psikososial bagi warga yang kehilangan rumah.
Meski tantangan masih besar, pemerintah menargetkan pembukaan seluruh akses vital dalam waktu dekat. Pemulihan infrastruktur, layanan pendidikan, serta sistem irigasi menjadi fokus setelah fase tanggap darurat mulai stabil.
Jonaer Silaban












