Jakarta, Minggu 08 Februari 2026 Ribaknews.id
Oleh: Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd
Diskursus mengenai posisi arsitektur dalam pembangunan bangsa kembali memperoleh ruang refleksi melalui Series II yang mengangkat gagasan penghormatan negara terhadap mahakarya arsitek nasional Friederich Silaban. Tulisan ini tidak sekadar melihat arsitektur sebagai objek fisik, melainkan sebagai manifestasi nilai kebangsaan yang menyatu dengan perjalanan sejarah Indonesia. Dalam perspektif akademik, penghormatan negara dipahami sebagai tindakan strategis yang mencakup dimensi yuridis, simbolik, kultural, hingga kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Arsitektur, dalam konteks negara modern, merupakan bahasa simbolik yang mampu menyampaikan pesan ideologis kepada publik. Setiap rancangan bangunan monumental memuat narasi tentang identitas nasional, orientasi politik kebudayaan, serta visi masa depan sebuah bangsa. Friederich Silaban dikenal sebagai salah satu arsitek yang berhasil menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam bentuk ruang dan struktur yang monumental namun rasional. Masjid Istiqlal, misalnya, tidak hanya berdiri sebagai rumah ibadah, tetapi juga sebagai simbol kebangsaan yang mencerminkan toleransi, keterbukaan, dan kebesaran visi negara pada masa awal republik.
Series II menekankan bahwa penghormatan negara terhadap tokoh arsitektur tidak dapat berhenti pada simbolisme semata. Dibutuhkan legitimasi yuridis yang kuat agar warisan arsitektur nasional memperoleh perlindungan dan pengakuan formal. Dalam kerangka kebijakan publik, negara memiliki ruang untuk menghadirkan penghargaan kenegaraan, penetapan warisan arsitektur sebagai aset budaya nasional, serta integrasi nilai-nilai arsitektur modern Indonesia ke dalam agenda pembangunan kebudayaan. Pendekatan ini menempatkan arsitektur sebagai bagian dari strategi nation and civilization building, bukan sekadar hasil teknis pembangunan.
Selain aspek hukum, dimensi simbolik juga memiliki peran penting dalam memperkuat memori kolektif masyarakat. Penamaan ruang publik, gedung negara, atau kawasan arsitektur yang merujuk pada tokoh nasional dapat menjadi medium edukasi sejarah yang hidup. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menikmati fungsi ruang, tetapi juga memahami konteks historis yang melatarbelakanginya. Arsitektur berubah menjadi narasi visual yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Dalam perspektif akademik, penghormatan terhadap Friederich Silaban diarahkan pada keberlanjutan pemikiran arsitektur nasional. Integrasi gagasan arsitektur modern Indonesia dalam kurikulum pendidikan tinggi menjadi langkah penting untuk memastikan generasi muda memahami akar identitas desain bangsa. Gagasan pendirian pusat studi atau museum arsitektur nasional juga muncul sebagai rekomendasi strategis. Institusi semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang dokumentasi, tetapi juga sebagai pusat riset yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam dialog kebudayaan.
Penguatan diskursus arsitektur nasional juga berkaitan erat dengan perubahan paradigma pembangunan. Selama beberapa dekade terakhir, pembangunan sering diukur melalui indikator ekonomi dan infrastruktur, sementara dimensi simbolik dan kultural cenderung berada di posisi sekunder. Series II mencoba menggeser perspektif tersebut dengan menempatkan arsitektur sebagai medium ideologis negara. Setiap garis desain, skala ruang, hingga orientasi bangunan memuat makna yang mencerminkan cara bangsa ini melihat dirinya sendiri.
Pendekatan monumental namun fungsional yang diusung Silaban dinilai relevan untuk dijadikan referensi dalam pembangunan fasilitas publik masa kini. Dalam konteks globalisasi arsitektur, banyak bangunan modern kehilangan identitas lokal karena mengikuti estetika universal tanpa mempertimbangkan nilai kebangsaan. Oleh karena itu, penghormatan terhadap Silaban tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi arah masa depan arsitektur Indonesia yang berakar pada karakter nasional.
Narasi yang dibangun dalam tulisan ini juga menyoroti pentingnya rehabilitasi memori sejarah pembangunan nasional. Selama ini, historiografi Indonesia sering menempatkan tokoh politik sebagai aktor utama, sementara peran profesional seperti arsitek dan insinyur belum sepenuhnya mendapatkan ruang yang setara. Padahal, pembangunan fisik negara tidak hanya lahir dari keputusan politik, tetapi juga dari gagasan intelektual yang diterjemahkan menjadi ruang publik. Pengakuan terhadap arsitektur nasional menjadi langkah korektif untuk memperluas cara pandang bangsa terhadap sejarahnya sendiri.
Dalam perspektif sosial, penghormatan terhadap arsitektur diyakini mampu memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap ruang kota. Ketika sebuah bangunan dipahami sebagai simbol perjalanan bangsa, hubungan emosional antara warga dan ruang publik akan terbentuk secara alami. Hal ini menjadi penting di tengah perubahan lanskap perkotaan yang cepat, di mana identitas historis sering kali tergerus oleh modernisasi yang seragam.
Series II pada akhirnya menghadirkan refleksi bahwa arsitektur bukan sekadar bidang teknis, melainkan bagian dari strategi kebudayaan negara. Penghormatan terhadap mahakarya Friederich Silaban menjadi pintu masuk untuk membicarakan ulang hubungan antara pembangunan, identitas nasional, dan memori kolektif. Dengan pendekatan yang memadukan dimensi yuridis, simbolik, akademik, dan kultural, diskursus ini memperlihatkan bahwa pembangunan fisik sejatinya adalah cermin nilai bangsa.
Arsitektur berdiri bukan hanya sebagai struktur beton dan baja, tetapi sebagai saksi sejarah yang terus berbicara kepada generasi mendatang. Melalui refleksi ini, negara diharapkan mampu menempatkan arsitektur sebagai bagian integral dari perjalanan peradaban Indonesia, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pembangunan yang berkelanjutan selalu berakar pada identitas dan nilai kebangsaan.
Diterbitkan Media Ribak News
Jonaer Silaban











