TARUTUNG, Selasa 21 April 2026. Ribaknews.id
Perayaan enam tahun kiprah Jabu Bonang menjadi cermin menguatnya sinergi antara komunitas perajin dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya di kawasan Danau Toba. Di tengah tantangan modernisasi, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha lokal.
Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan, menegaskan bahwa pengembangan sektor wastra tidak lagi bisa dipandang semata sebagai pelestarian budaya, melainkan sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif daerah. Menurutnya, model yang dijalankan komunitas seperti Jabu Bonang menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
“Penguatan sektor ini harus berbasis ekosistem, bukan hanya produksi. Mulai dari keterampilan, pemasaran, hingga literasi keuangan dan kesehatan harus berjalan terpadu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tren nasional dalam pengembangan ekonomi kreatif, di mana produk budaya seperti ulos memiliki nilai tambah tinggi jika dikelola secara profesional. Dengan sentuhan inovasi, ulos tidak hanya berfungsi sebagai simbol adat, tetapi juga menjadi komoditas yang mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk sektor fashion berkelanjutan.
Di sisi lain, komunitas perajin menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari regenerasi penenun, keterbatasan akses pasar, hingga fluktuasi harga bahan baku. Inisiatif seperti pelatihan teknik tenun, penggunaan pewarna alami, serta penguatan branding produk dinilai menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut.
Pengamat sosial budaya kawasan Danau Toba menilai bahwa keberhasilan Jabu Bonang tidak terlepas dari pendekatan berbasis komunitas yang inklusif. Perempuan sebagai aktor utama dalam proses menenun tidak hanya ditempatkan sebagai pelaku produksi, tetapi juga sebagai subjek pemberdayaan.
“Ini bukan sekadar produksi kain, tetapi transformasi sosial. Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan dan ekonomi, dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan keluarga,” ujarnya.
Momentum perayaan ini juga memperlihatkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya praktik fashion berkelanjutan. Penggunaan pewarna alami dan teknik tradisional menjadi nilai jual tersendiri di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk ramah lingkungan.
Ke depan, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan afirmatif, termasuk akses pembiayaan, promosi terpadu, dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Dengan strategi yang tepat, wastra lokal seperti ulos berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus identitas budaya yang tetap lestari di tengah arus globalisasi.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur













