Humbang Hasundutan, Rabu 26 November 2025 Ribaknews.id
Fenomena cuaca ekstrem kembali melanda beberapa wilayah di Tapanuli sejak akhir November 2025. Laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan potensi curah hujan tinggi, angin kencang, dan cuaca tidak menentu di tujuh kabupaten/kota yang berdekatan. Kondisi ini tidak hanya memicu banjir dan longsor, tetapi juga telah menimbulkan kerugian material dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), sejumlah titik strategis di ruas jalan utama mulai terdampak. Longsor dan genangan air dilaporkan terjadi di beberapa desa, terutama di kawasan yang memiliki topografi perbukitan. Situasi tersebut membuat akses menuju dan dari Dolok Sanggul terganggu, sehingga menghambat transportasi masyarakat maupun distribusi barang kebutuhan pokok.
Di tengah kondisi yang tidak menentu ini, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan bergerak cepat. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Humbahas, Benyamin Nababan, S.Pd, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap enteng kondisi cuaca ekstrem yang sedang berlangsung.
Keterangan BKPSDM: Pemerintah Siaga, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Saat diwawancarai wartawan, Rabu 26 November 2025, Benyamin Nababan menegaskan bahwa sejumlah titik di Humbahas telah mengalami bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir di beberapa desa, hingga tanah longsor yang menutup badan jalan dan mengakibatkan arus transportasi terhenti.
“Di beberapa desa di daerah kita ada yang mengalami musibah banjir, longsor, dan lainnya. Pemkab Humbahas siap siaga bersama Forkopimda menangani bencana yang datang,” ujar Benyamin.
Ia menyebutkan bahwa wilayah dengan dampak paling signifikan berada di sekitar Kecamatan Pakkat dan Kecamatan Parlilitan. Dua kecamatan tersebut termasuk dalam jalur pegunungan dengan kontur tanah yang labil, sehingga menjadi titik rawan longsor setiap kali curah hujan tinggi terjadi dalam waktu panjang.
Longsor ini mengakibatkan tumpukan material tanah dan kayu meluber hingga menutup badan jalan. Beberapa kendaraan sempat terjebak, sementara warga harus menunggu alat berat dikerahkan untuk membuka jalur.
“Material tanah dan kayu sempat menutup badan jalan. Ini membuat beberapa ruas tidak bisa dilalui. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk tetap hati-hati, terutama saat melintas di malam hari,” tambahnya.
Cuaca Ekstrem Menurut BMKG: Belum Ada Kepastian Kapan Berakhir
BMKG dalam laporannya menyebutkan bahwa potensi cuaca ekstrem di wilayah Tapanuli masih mungkin terjadi selama beberapa hari ke depan. Kombinasi faktor dinamika atmosfer, tingginya kelembapan udara, serta pembentukan awan konvektif massal menjadi penyebab utama intensitas hujan yang meningkat drastis.
Kondisi ini membuat situasi semakin tidak dapat diprediksi. Oleh sebab itu, langkah kewaspadaan kolektif menjadi penting.
Plt Kepala BKPSDM Humbahas menuturkan bahwa pihaknya tetap berkoordinasi dengan instansi teknis seperti BPBD, Dinas Perhubungan, dan Dinas PUPR untuk memastikan penanganan darurat berjalan lancar. Pengerahan alat berat, evakuasi dini, hingga pemantauan titik rawan menjadi fokus utama pemerintah daerah selama beberapa hari terakhir.
Dampak Langsung ke Warga: Akses Terhambat, Aktivitas Ekonomi Terganggu
Kondisi jalan yang tertutup material longsor membuat mobilitas masyarakat terganggu. Warga yang bekerja ke luar kecamatan atau mengirim hasil pertanian harus menunggu penanganan jalan dibuka.
Bagi petani, situasi ini memberi dampak serius karena distribusi hasil panen ke pusat kota menjadi terhambat. Sementara bagi pelaku usaha kecil dan pedagang harian, cuaca ekstrem berpotensi menurunkan jumlah pembeli maupun pendapatan.
“Kami berharap masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Cuaca ekstrem ini tidak bisa dianggap sepele, dan keselamatan adalah prioritas utama,” tegas Benyamin lagi.
Antisipasi dan Tindakan Pemkab: Siaga Bersama Forkopimda
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan memastikan bahwa seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah siaga untuk menghadapi kemungkinan bencana susulan. Langkah-langkah yang ditempuh antara lain:
Menyiapkan tim reaksi cepat bencana di tingkat kabupaten.
Menempatkan alat berat di lokasi strategis yang rawan longsor.
Menginstruksikan camat, kepala desa, dan perangkat desa melakukan pemantauan ketat kondisi lingkungan.
Menyampaikan imbauan kepada masyarakat melalui kanal informasi resmi pemerintah.
Warga juga diminta segera melapor kepada aparat desa atau kecamatan jika melihat tanda-tanda retakan tanah, suara gemuruh dari lereng, atau peningkatan debit air sungai secara mendadak.
Harapan agar Situasi Segera Pulih
Mengakhiri keterangannya, Plt Kepala BKPSDM Humbahas Benyamin Nababan berharap masyarakat tetap tenang namun tetap waspada. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi lapangan, serta menyiapkan langkah cepat jika terjadi keadaan darurat baru.
“Harapan kita bersama, musibah ini dapat teratasi secepat mungkin. Kami tetap bekerja dan bersiaga, namun kewaspadaan masyarakat sangat penting untuk mencegah korban jiwa,” pungkasnya.
Dengan kondisi cuaca yang belum menentu, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan ketika hujan deras, menghindari jalur rawan longsor, dan selalu memperbarui informasi cuaca dari pemerintah maupun BMKG.
Jonaer Silaban
Diterbitkan: ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya










