Alarm Keamanan di Silangit: Alat Ada, Sistem Dipertanyakan

Kilas Pengakuan Tersangka Mengarah pada Indikasi Jalur Lolos, Evaluasi Pengamanan Bandara Mengemuka

Selasa 24 Maret 2026, Siborongborong. Ribaknews.id

Dua temuan narkotika masing-masing sekitar 2 kilogram dalam rentang satu pekan di Bandara Internasional Sisingamangaraja XII memunculkan pertanyaan mendasar: apakah sistem pengamanan telah berjalan optimal?

Peristiwa 13 Maret 2026 menemukan sabu tanpa pelaku, sementara pada 19 Maret 2026 aparat mengamankan seorang kurir berinisial AAA (21) dengan barang bukti serupa.

Dua kejadian ini bukan hanya soal penindakan, tetapi membuka ruang evaluasi terhadap sistem pengawasan.

Kilas Pengakuan Tersangka: Indikasi Jalur yang Pernah Lolos

Dalam kasus 19 Maret, berdasarkan rilis resmi Polres Tapanuli Utara, tersangka AAA (21) mengaku telah beberapa kali berhasil mengirim narkotika melalui jalur udara sebelum akhirnya tertangkap.

Pengakuan tersebut mencakup beberapa pengiriman dengan pola serupa, antara lain:

±2 kilogram (lolos)

±2 kilogram (lolos)

±1,7 kilogram (lolos)

±1 kilogram (lolos)

±2 kilogram (gagal—tertangkap pada 19 Maret)

Selain itu, tersangka juga mengaku pernah menggunakan jalur lain melalui Bandara Minangkabau dengan membawa sekitar 1,3 kilogram sabu dan berhasil lolos.

Secara hukum, pengakuan ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Namun secara analitis, keterangan tersebut menjadi:

👉 indikasi awal adanya pola distribusi yang diduga pernah berjalan berulang

Alat Keamanan Tersedia, Namun Efektivitas Dipertanyakan

Sebagai bandara yang sebelumnya berstatus internasional, Bandara Internasional Sisingamangaraja XII secara umum telah dilengkapi dengan perangkat pengamanan seperti:

X-ray baggage scanner

CCTV pengawasan

metal detector

sistem pemeriksaan berlapis

Peralatan ini dirancang untuk mendeteksi barang berbahaya, termasuk narkotika.

Namun dalam praktik, efektivitasnya sangat ditentukan oleh:

ketelitian operator

konsistensi penerapan SOP

serta koordinasi antar petugas

👉 Keberadaan alat tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas pengawasan.

Jika Indikasi Berulang, Sistem Perlu Diuji

Pengakuan tersangka yang menyebut pernah lolos beberapa kali—meskipun masih dalam tahap pengembangan—menjadi sinyal bahwa:

👉 yang perlu diuji bukan hanya satu peristiwa, tetapi kemungkinan adanya pola

Dalam konteks ini, dua kejadian dalam satu pekan menjadi dasar kuat untuk:

mengevaluasi prosedur pemeriksaan

menguji konsistensi sistem keamanan

serta memastikan tidak ada celah yang dimanfaatkan

Tanggung Jawab Operasional dalam Sorotan

Dalam sistem keamanan bandara, tanggung jawab tidak berhenti pada alat atau petugas di lapangan, tetapi juga pada manajemen operasional secara keseluruhan.

Sebagai pengelola, pihak bandara memiliki peran dalam:

memastikan seluruh sistem berjalan optimal

menjamin SOP diterapkan secara konsisten

serta melakukan evaluasi menyeluruh jika terjadi insiden

Sorotan publik terhadap kinerja pengelolaan menjadi bagian dari tuntutan akuntabilitas dalam pelayanan publik.

Respons Bandara Belum Tersedia

Hingga saat ini selasa 24 Maret 2026, konfirmasi media kepada pihak bandara melalui humas, M.P, yang disampaikan sejak Minggu (22/03/2026), belum memperoleh tanggapan.

Padahal, klarifikasi diperlukan untuk menjelaskan:

bagaimana sistem pengamanan dijalankan

apakah ada evaluasi pasca kejadian

serta langkah perbaikan ke depan

Ujian Ada pada Sistem

Tanpa menarik kesimpulan prematur, satu hal menjadi perhatian:

> Jika peralatan tersedia namun terdapat indikasi peristiwa berulang, maka evaluasi tidak cukup pada alat—melainkan pada sistem, prosedur, dan pengelolaannya.

Dengan demikian, pertanyaan publik tidak berhenti pada siapa yang bertanggung jawab, tetapi berkembang menjadi:

👉 apakah sistem pengamanan telah dijalankan secara maksimal sesuai standar yang ada?

Diterbitkan: Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *