Doloksanggul, Kamis 30 April 2026. Ribaknews.id
Pertemuan antara Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas) Oloan Paniaran Nababan dengan jemaat HKI Bahalimbalo Simpang Tiga, Kecamatan Paranginan, Kamis (30/4/2026), bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik suasana hangat itu, tersirat pesan kuat: pembangunan rumah ibadah tetap menjadi prioritas dalam kerangka pembangunan sosial daerah.
Didampingi Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Hanaya Simamora, Bupati menerima langsung rombongan jemaat bersama Panitia Pembangunan Gereja (PPG) HKI Bahalimbalo dari Resort Paranginan, Daerah IX Humbang. Agenda utama mereka jelas—melaporkan progres pembangunan gereja sekaligus mengharapkan dukungan konkret dari pemerintah daerah.
Ketua PPG, Sahat Parulian Simanjuntak, membuka pertemuan dengan nada apresiatif. Ia menekankan bahwa kesempatan bertemu langsung dengan kepala daerah merupakan kehormatan sekaligus momentum strategis untuk menyampaikan aspirasi jemaat. Namun di balik ungkapan terima kasih itu, tersimpan kebutuhan riil: percepatan penyelesaian pembangunan gedung gereja yang masih berjalan.
“Kami berharap adanya dukungan dari pemerintah agar pembangunan ini bisa segera rampung,” ujar Sahat, mencerminkan harapan kolektif jemaat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan rumah ibadah di daerah tidak sepenuhnya bisa bergantung pada swadaya. Meski semangat gotong royong tetap menjadi fondasi utama, keterlibatan pemerintah melalui skema hibah menjadi faktor penentu keberlanjutan proyek.
Menanggapi hal itu, Bupati Oloan Paniaran Nababan menyampaikan apresiasi atas solidaritas jemaat. Ia menilai semangat kebersamaan yang ditunjukkan HKI Bahalimbalo merupakan modal sosial penting dalam pembangunan daerah.
Lebih dari itu, Bupati juga memberikan sinyal tegas bahwa pemerintah daerah tidak abai terhadap kebutuhan pembangunan rumah ibadah. Menurutnya, dukungan terhadap fasilitas keagamaan merupakan bagian integral dari upaya memperkuat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
“Pada prinsipnya, pemerintah mendukung pembangunan rumah ibadah sebagai bagian dari peningkatan kehidupan sosial dan keagamaan,” tegasnya.
Pernyataan ini memperlihatkan posisi pemerintah sebagai fasilitator, bukan sekadar regulator. Dalam konteks daerah seperti Humbahas, pendekatan ini krusial untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan penguatan nilai-nilai sosial.
Penguatan komitmen itu kemudian dipertegas oleh Kabag Kesra Hanaya Simamora. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan proposal yang telah diajukan sebelumnya, HKI Bahalimbalo Simpang Tiga masuk dalam daftar penerima hibah keagamaan tahun anggaran berjalan.
Artinya, dukungan pemerintah bukan lagi sebatas wacana, melainkan telah masuk tahap implementasi kebijakan. Meski detail besaran hibah tidak diungkapkan, kepastian ini menjadi angin segar bagi panitia pembangunan.
Namun demikian, pemberian hibah keagamaan tetap memerlukan pengawasan ketat. Transparansi penggunaan anggaran, akuntabilitas panitia, serta ketepatan sasaran menjadi faktor krusial agar bantuan benar-benar berdampak pada percepatan pembangunan.
Di sisi lain, pertemuan ini juga mencerminkan pola relasi yang cukup sehat antara pemerintah daerah dan komunitas keagamaan. Dialog langsung membuka ruang komunikasi dua arah, sekaligus meminimalkan potensi miskomunikasi dalam penyaluran bantuan.
Lebih luas, dukungan terhadap pembangunan rumah ibadah tidak hanya berdampak pada aspek religius, tetapi juga sosial. Gereja, seperti halnya rumah ibadah lain, sering berfungsi sebagai pusat aktivitas komunitas—mulai dari pendidikan informal, kegiatan sosial, hingga penguatan solidaritas masyarakat.
Dengan demikian, percepatan pembangunan HKI Bahalimbalo bukan semata soal infrastruktur, melainkan juga investasi sosial jangka panjang.
Pertanyaannya kini, sejauh mana komitmen ini akan dikawal hingga tuntas? Sebab dalam banyak kasus, proyek pembangunan berbasis hibah kerap menghadapi tantangan administratif hingga teknis di lapangan.
Jika koordinasi antara pemerintah dan panitia berjalan efektif, bukan tidak mungkin pembangunan gereja ini menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara negara dan masyarakat dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di tingkat lokal.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur








