TAPANULI UTARA – Kamis 16 April 2026. Ribaknews.id
Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan, menghadiri rapat persiapan implementasi pemberdayaan ekonomi komunitas berbasis integrated farming komoditas nilam yang digelar di Kampus Institut Teknologi Del, Laguboti, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15 hingga 17 April 2026 ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi berbasis klaster pertanian yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus menekan angka kemiskinan dan kesenjangan sosial di wilayah Tapanuli Utara dan sekitarnya.
Dalam forum tersebut, Wakil Bupati menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan komoditas unggulan daerah, khususnya nilam, yang selama ini dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global sebagai bahan baku industri parfum dan minyak atsiri.
“Pengembangan nilam tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat agar program ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Wakil Bupati dalam arahannya.
Konsep integrated farming yang diusung dalam program ini menitikberatkan pada sistem pertanian terpadu yang tidak hanya fokus pada satu komoditas, tetapi juga mengintegrasikan berbagai subsektor seperti peternakan, pengolahan limbah organik, serta diversifikasi tanaman. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Pihak Institut Teknologi Del sebagai tuan rumah kegiatan turut berperan dalam memberikan dukungan keilmuan dan teknologi, terutama dalam hal peningkatan kualitas budidaya dan pengolahan hasil nilam. Dukungan ini dinilai krusial mengingat kualitas minyak nilam sangat menentukan daya saing di pasar ekspor.
Selain itu, forum ini juga membahas potensi pengembangan kawasan berbasis nilam sebagai bagian dari penguatan program Food Estate di Sumatera Utara. Meski demikian, sejumlah peserta menilai bahwa pengembangan nilam perlu diiringi dengan strategi hilirisasi yang matang, termasuk pembangunan fasilitas penyulingan modern dan akses pasar yang lebih luas.
Selama ini, salah satu tantangan utama yang dihadapi petani nilam adalah fluktuasi harga serta ketergantungan pada tengkulak. Kondisi ini kerap membuat posisi tawar petani menjadi lemah, meskipun komoditas yang dihasilkan memiliki nilai jual tinggi di tingkat global.
Melalui pendekatan berbasis klaster dan integrated farming, pemerintah daerah berharap dapat memperkuat rantai nilai komoditas nilam, mulai dari tahap produksi hingga pemasaran. Dengan demikian, petani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai bagian dari sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Rapat ini juga menjadi momentum untuk menyusun langkah strategis implementasi program di lapangan, termasuk identifikasi wilayah potensial, kesiapan sumber daya manusia, serta dukungan infrastruktur yang dibutuhkan. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pendampingan dan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, pengembangan komoditas nilam berbasis integrated farming juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri pengolahan, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan daerah yang berorientasi pada penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan seperti Institut Teknologi Del, serta masyarakat, program ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu diwujudkan menjadi gerakan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat Tapanuli Utara.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur








