Pray for Tapanuli — Doa, Duka, dan Solidaritas untuk Korban Banjir Bandang dari Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd.

Gelombang Bencana yang Mengguncang Kawasan Tapanuli

Jakarta, Jumat 28 November 2025 Ribaknews.id

Serangkaian banjir bandang yang menerjang kawasan Tapanuli sejak awal pekan ini meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga. Dalam hitungan jam, aliran air deras yang dipicu hujan ekstrem meluluhlantakkan pemukiman, menenggelamkan rumah-rumah, serta memutus akses vital di Tapanuli Tengah, Sibolga, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, hingga Mandailing Natal.

Para petugas gabungan—BPBD, Basarnas, TNI, Polri, relawan desa, hingga komunitas lokal—bergerak siang malam mengevakuasi korban dan menyisir lokasi yang berpotensi masih menyimpan warga hilang. Laporan sementara menyebutkan adanya korban jiwa, puluhan rumah hanyut, ratusan pengungsi, dan kerusakan infrastruktur dasar seperti jembatan, irigasi, serta jalur penghubung antar kecamatan.

Bencana yang merata di hampir seluruh wilayah Tapanuli ini dipastikan menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar tahun ini di Sumatera Utara.

Pesan Belasungkawa dan Doa dari Dr. Eriko Silaban Putra Humbang Hasundutan 

Di tengah hantaman bencana tersebut, suara empati dan solidaritas mengalir dari berbagai tokoh. Salah satunya dari Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd., Ketua Yayasan YCCN, yang menyampaikan rasa duka cita mendalam bagi seluruh korban banjir bandang.

Dalam pernyataan resminya, ia menyampaikan:

> “Turut berduka atas musibah banjir bandang yang melanda Kab. Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kota Padang Sidempuan, Kab. Tapanuli Utara, Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Humbang Hasundutan, dan Kab. Mandailing Natal. Kita merasakan kesedihan atas musibah yang dialami saudara-saudara kita. Kita berdoa agar musibah ini dapat kita lalui bersama dan tidak terulang kembali. Semoga Tuhan memberikan kekuatan, pemulihan, dan perlindungan kepada semua korban banjir bandang.”

Pernyataan ini bukan sekadar ucapan duka, tetapi seruan moral untuk menguatkan masyarakat Tapanuli yang kini tengah terpuruk. Di tengah kondisi psikologis warga yang terguncang, suara tokoh publik seperti Dr. Eriko Silaban menjadi energi penting bagi proses pemulihan.

Evakuasi dan Penanganan Darurat di Lapangan

Hingga Jumat (28/11/2025), petugas masih berjibaku mengevakuasi warga di daerah yang sulit dijangkau. Sungai-sungai di Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal masih membawa material lumpur serta potongan kayu, menyulitkan proses pencarian korban hilang. Di beberapa titik, arus sungai yang berubah arah memaksa petugas menghentikan sementara pencarian karena risiko keselamatan.

BPBD setempat telah membuka posko pengungsian di rumah ibadah, gedung sekolah, dan kantor desa. Dapur umum mulai beroperasi meski logistik masih terbatas. Listrik di desa-desa tertentu padam akibat tiang tumbang, dan jaringan komunikasi di beberapa wilayah dilaporkan terputus total.

Relawan lokal tampak bahu-membahu membantu proses distribusi makanan, memindahkan lansia dari rumah yang terendam, hingga menyediakan selimut dan pakaian layak pakai. Semangat gotong royong menjadi denyut utama yang menjaga warga tetap bertahan di tengah situasi sulit.

Kerentanan Psikologis dan Kebutuhan Mendesak Warga

Dampak terbesar bencana banjir bandang tidak hanya bersifat fisik. Trauma psikologis, terutama pada anak-anak dan perempuan, menjadi perhatian serius para relawan. Banyak warga yang kehilangan rumah, dokumen penting, serta sumber penghidupan.

Kebutuhan paling mendesak saat ini mencakup:

Air bersih dan alat penjernih air

Selimut, matras, dan pakaian hangat

Obat-obatan ISPA, diare, dan antiseptik

Susu dan makanan bayi

Penerangan darurat, baterai, dan genset kecil

Perlengkapan sanitasi bagi perempuan

Tanpa pemenuhan kebutuhan dasar ini, para pengungsi berisiko mengalami masalah kesehatan lanjutan, terutama penyakit kulit, infeksi pernapasan, hingga diare.

Solidaritas: Pondasi Pemulihan Tapanuli

Seruan doa dari Dr. Eriko Silaban mencerminkan karakter masyarakat Tapanuli yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan solidaritas. Dukungan moral dari tokoh publik, lembaga sosial, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum adalah modal penting dalam mempercepat fase pemulihan.

Bencana ini sekaligus menjadi evaluasi besar bagi daerah dalam memperkuat mitigasi bencana. Tata kelola sungai, reboisasi, sistem peringatan dini, hingga rencana tata ruang harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.

Solidaritas bukan hanya tentang bantuan fisik, tetapi juga kebersamaan dalam membangun kembali harapan.

Bangkit Bersama, Melangkah dengan Harapan

Meski duka masih menyelimuti, masyarakat Tapanuli menunjukkan ketangguhan luar biasa. Di tengah kehancuran, mereka tetap saling menguatkan, saling menolong, dan saling menjaga.

Doa dan empati yang disampaikan Dr. Eriko Silaban menjadi pengingat bahwa masyarakat Tapanuli tidak berdiri sendiri dalam menghadapi bencana ini. Pemulihan memang membutuhkan waktu, tetapi kekuatan bersama membuat Tapanuli tetap kokoh menatap masa depan.

Sumber:
Dr. Eriko Silaban. S.Pd, M,Pd
Ketua Yayasan YCCN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *