Humbang Hasundutan, 01 November 2025 Ribaknews.id
Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam penanganan pascabencana nasional. Melalui Polres Humbang Hasundutan (Humbahas), Polri melaksanakan kegiatan Trauma Healing dan layanan psikososial bagi anak-anak korban longsor di dua kawasan terdampak: Posko Banjir dan Longsor Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, serta Desa Batu Nagodang Siatas, Kecamatan Onan Ganjang, Senin (1/12/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan terpadu yang didorong pemerintah pusat untuk memastikan warga terdampak bencana—terutama kelompok rentan—mendapat layanan psikologis yang layak.
Misi Kemanusiaan: Fokus pada Anak-Anak sebagai Kelompok Paling Rentan
Dalam momentum bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak menjadi semakin krusial. Polri menempatkan aspek ini sebagai prioritas nasional, agar gangguan emosional pascabencana tidak berkembang menjadi trauma berkepanjangan.
Tim konselor Polres Humbahas memulai kegiatan dengan berinteraksi langsung bersama anak-anak, menjelaskan bahwa proses Trauma Healing bertujuan mengembalikan rasa aman, mengurangi ketakutan, dan membantu mereka kembali stabil secara emosional.
Pendekatan ini sejalan dengan standar pelayanan psikososial pascabencana yang dikembangkan oleh BNPB dan Kementerian Sosial.
Intervensi Psikososial di Lapangan: Membangun Rasa Aman di Tengah Ketidakpastian
Suasana posko pengungsian yang semula masih diliputi kecemasan perlahan mencair ketika para konselor menyapa anak-anak, mendengarkan cerita mereka, dan memberikan kesempatan bagi para pengungsi cilik itu untuk mengekspresikan perasaan.
Dialog awal dengan para orang tua pun menjadi pintu masuk bagi para petugas untuk memahami tingkat beban psikologis warga, sekaligus merancang pendekatan pemulihan yang tepat sasaran.
Kegiatan ini menjadi penguatan bahwa Polri tidak hanya bekerja dalam sisi keamanan dan evakuasi, tetapi juga memainkan peran strategis dalam pemulihan mental masyarakat.
Ruang Ceria di Tengah Bencana: Bermain, Bernyanyi, dan Tertawa Bersama
Setelah sesi komunikasi awal, tim melanjutkan kegiatan dengan berbagai permainan yang memiliki tujuan psikoterapeutik: menenangkan, memulihkan energi positif, dan meningkatkan kepercayaan diri anak-anak.
Mulai dari games interaktif, permainan kelompok, hingga sesi bernyanyi bersama, seluruh aktivitas dirancang untuk mengurangi ketegangan dan mengembalikan keceriaan.
Tawa anak-anak yang kembali menggema di posko menjadi penanda bahwa proses pemulihan psikologis berjalan efektif.
Di sela kegiatan, personel Polres Humbahas juga membagikan makanan ringan sebagai bentuk perhatian dan motivasi bagi anak-anak agar tetap kuat menghadapi masa sulit.
Pernyataan Kapolres Humbahas: “Polri Hadir untuk Menguatkan Masyarakat”
Kapolres Humbahas, AKBP Arthur Sameaputty, S.I.K., menegaskan bahwa kegiatan Trauma Healing merupakan bentuk tanggung jawab Polri sebagai institusi negara dalam memulihkan masyarakat terdampak bencana.
“Kegiatan ini kami lakukan untuk membantu menghilangkan rasa takut, stres, dan trauma pada anak-anak. Kami ingin menumbuhkan harapan baru bagi mereka, memberikan semangat, dan menghadirkan kembali senyum dan keceriaan di tengah situasi bencana,” ujar Kapolres.
Ia menambahkan, pendekatan humanis menjadi salah satu strategi nasional Polri dalam memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada kesehatan mental masyarakat terdampak.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa mereka tidak sendirian. Polri hadir untuk mendampingi, melindungi, dan memberikan kekuatan baru bagi mereka agar bisa menjalani hari-hari berikutnya dengan tenang,” tegas AKBP Arthur.
Konteks Nasional: Penguatan Layanan Psikososial sebagai Bagian Strategis Penanggulangan Bencana
Dalam beberapa tahun terakhir, layanan psikososial pascabencana menjadi prioritas dalam kebijakan penanggulangan bencana nasional. Pemerintah melalui BNPB, Kemensos, dan Polri menempatkan pemulihan psikologis anak sebagai salah satu indikator keberhasilan pemulihan daerah terdampak.
Trauma Healing merupakan metode yang dinilai efektif dalam membantu anak-anak—kelompok yang paling rentan menyimpan trauma jangka panjang—untuk kembali merasa aman.
Kegiatan serupa juga tengah berlangsung di berbagai daerah terdampak bencana di Indonesia, sebagai bagian dari kebijakan “pemulihan komprehensif” yang menekankan tiga aspek: fisik, sosial, dan psikologis.
Upaya Polres Humbahas ini pun menjadi cerminan pelaksanaan strategi tersebut di tingkat daerah, sejalan dengan komando penanganan bencana di bawah koordinasi pemerintah pusat.
Dampak Jangka Panjang: Mencegah Trauma Menjadi Luka Kolektif
Tanpa intervensi psikologis, trauma bencana dapat menjadi hambatan serius bagi perkembangan anak. Banyak studi menunjukkan bahwa trauma yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan gangguan kecemasan, depresi, hingga penurunan prestasi belajar.
Melalui kegiatan ini, Polri membantu mengurangi risiko tersebut. Dengan ruang bermain, kebersamaan, dan motivasi yang diberikan, anak-anak didorong untuk membangun kembali resiliensi mental mereka. Sementara itu, para orang tua juga mendapatkan kelegaan emosional ketika melihat anak mereka kembali ceria.
Harapan Lanjutan: Trauma Healing Berkelanjutan sebagai Program Nasional
Kapolres Humbahas menyampaikan bahwa kegiatan Trauma Healing diharapkan dapat terus berjalan selama masa pemulihan. Ia menekankan bahwa dukungan psikologis tidak cukup dilakukan satu kali, tetapi perlu dipantau dan dilanjutkan hingga kondisi anak-anak benar-benar stabil.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi ruang pemulihan yang efektif bagi anak-anak dan keluarga, membantu mereka bangkit, kembali ceria, dan melihat masa depan dengan optimis,” ujarnya.
Sebagai bagian dari institusi negara, Polri terus memperkuat perannya dalam pelayanan humanis, termasuk dalam pemulihan pascabencana di seluruh Indonesia.
Jonaer Silaban
Diterbitkan: ribaknews.id










