SIBORONGBORONG — Kamis 25 Desember 2025 Ribaknews.id
Natal tahun 2025 menjadi momen yang tak terlupakan bagi 87 warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Siborongborong, Sumatera Utara. Di saat lonceng Natal berdentang, mereka tidak hanya menerima ucapan selamat, tetapi juga tiket kebebasan melalui Remisi Khusus Natal yang membuat mereka langsung menghirup udara bebas.
Remisi tersebut diserahkan secara simbolis kepada dua perwakilan WBP oleh Kepala Lapas Siborongborong, Herry Simatupang, didampingi jajaran pejabat struktural, dalam upacara resmi di Aula Lapas, Kamis (25/12). Di balik prosesi sederhana itu, tersimpan kisah panjang tentang pembinaan, penantian, dan harapan yang akhirnya terwujud.
Dalam sambutan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Agus Andrianto, yang dibacakan pada kegiatan tersebut, negara menegaskan satu pesan penting: remisi bukan hadiah, melainkan penghargaan atas perubahan sikap dan kedisiplinan.
“Setiap program pembinaan yang dijalani tidaklah sia-sia. Semua itu adalah bekal agar warga binaan mampu kembali ke masyarakat dan memberi manfaat,” pesan Menteri. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemasyarakatan hari ini tidak lagi berorientasi pada hukuman semata, tetapi pada pemulihan dan reintegrasi sosial.
Data yang terungkap menarik perhatian. Dari 90 WBP yang diusulkan, sebanyak 87 orang disetujui menerima remisi khusus Natal 2025. Angka ini menunjukkan tingkat kelulusan yang tinggi, sekaligus mencerminkan efektivitas pembinaan yang berjalan di dalam Lapas Siborongborong.
“Selamat kepada 87 warga binaan yang hari ini mendapatkan remisi dan langsung bebas,” ujar Kalapas Herry Simatupang. Namun ia juga menegaskan sisi lain dari kebijakan ini. Tiga WBP yang belum memperoleh remisi disebut belum memenuhi persyaratan administratif dan substantif sesuai ketentuan.
“Bagi yang belum mendapat remisi, tetap bersabar dan terus memperbaiki diri. Kesempatan itu selalu ada,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa remisi diberikan secara objektif dan selektif, bukan otomatis.
Di balik angka 87, terdapat dampak yang lebih luas. Pembebasan puluhan WBP sekaligus berkontribusi pada pengurangan kepadatan hunian lapas, persoalan klasik yang dihadapi lembaga pemasyarakatan di berbagai daerah. Lebih dari itu, Natal menjadi momentum spiritual yang memperkuat kesiapan mental WBP untuk kembali ke tengah masyarakat.
Menteri Agus Andrianto juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemasyarakatan, pemerintah daerah, serta lembaga sosial yang selama ini mendukung proses pembinaan. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar pembinaan tidak berhenti di balik tembok lapas, tetapi berlanjut setelah WBP kembali ke lingkungan sosialnya.
Bagi 87 orang yang melangkah keluar dari Lapas Siborongborong pada Hari Natal, kebebasan bukanlah akhir perjalanan. Justru, tantangan sesungguhnya dimulai: membuktikan bahwa pembinaan yang dijalani mampu mengubah arah hidup. Di hadapan keluarga dan masyarakat, mereka membawa satu bekal penting—kesempatan kedua dari negara.
Natal kali ini pun tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi simbol nyata bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari balik jeruji besi.
Jonaer Silaban














