Selasa 17 Maret 2026, Marbona -Humbang Hasundutan.
Ribaknews.id
Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-19 Koperasi Simpan Pinjam Pesada Perempuan Tangguh (KESADANTA) Tahun Buku 2025 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kinerja sekaligus memperkuat arah kebijakan koperasi perempuan di tingkat kabupaten. Kegiatan yang berlangsung di Marbona Cafe & Resto, Selasa (17/03/2026), turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Tenaga Kerja.
Mengusung tema “Menguatkan Komitmen KESADANTA untuk Adaptif terhadap Perubahan Iklim”, forum ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga mencerminkan kesadaran kolektif akan tantangan baru yang dihadapi sektor ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas menegaskan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi lokal, terutama bagi kelompok perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di tingkat akar rumput. Ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi KESADANTA dalam menjaga eksistensi dan kontribusinya di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks.
“Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini. Koperasi tidak hanya dituntut kuat secara kelembagaan, tetapi juga harus adaptif terhadap berbagai perubahan, termasuk dampak perubahan iklim yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi usaha anggota,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas yang dihadapi banyak pelaku usaha mikro, terutama perempuan, yang bergantung pada sektor informal seperti pertanian, perdagangan kecil, dan usaha rumahan. Perubahan pola cuaca, ketidakstabilan hasil produksi, hingga fluktuasi harga menjadi faktor yang semakin mempersempit ruang gerak ekonomi mereka.
RAT ke-19 ini menjadi forum evaluasi terhadap kinerja pengurus selama Tahun Buku 2025. Selain laporan pertanggungjawaban, agenda ini juga membahas rencana kerja ke depan yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, termasuk kebutuhan akan inovasi dalam pengelolaan koperasi.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Koperasi simpan pinjam seperti KESADANTA dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha dan kemampuan anggota dalam mengakses serta mengembalikan pinjaman. Di sisi lain, tekanan ekonomi akibat perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko kredit, terutama bagi anggota yang usahanya bergantung pada sektor rentan.
Dalam konteks ini, adaptasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. Koperasi dituntut mampu merancang skema pembiayaan yang lebih fleksibel, sekaligus mendorong literasi keuangan anggota agar lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Kepala Dinas juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penguatan koperasi melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, serta fasilitasi akses permodalan. Menurutnya, intervensi pemerintah harus diarahkan pada peningkatan kapasitas manajerial dan daya saing koperasi, bukan sekadar bantuan administratif.
“Kami terus mendorong agar koperasi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Penguatan kapasitas pengurus dan anggota menjadi kunci agar koperasi mampu menjawab tantangan ekonomi ke depan,” tambahnya.
Di sisi lain, RAT ini juga memperlihatkan pentingnya solidaritas internal sebagai fondasi utama koperasi. Kepercayaan antaranggota menjadi modal sosial yang tidak tergantikan dalam menjaga stabilitas lembaga, terutama dalam situasi ekonomi yang tidak menentu.
Sejumlah peserta yang hadir menilai bahwa keberlanjutan koperasi sangat bergantung pada transparansi pengelolaan serta partisipasi aktif anggota dalam setiap pengambilan keputusan. Oleh karena itu, RAT tidak hanya menjadi forum formal, tetapi juga ruang demokrasi ekonomi yang menentukan arah organisasi.
KESADANTA sendiri dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi model koperasi perempuan yang tangguh dan inovatif di tingkat daerah. Dengan basis anggota yang solid serta pengalaman panjang hingga memasuki tahun ke-19, koperasi ini diharapkan mampu bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam pemanfaatan teknologi dan diversifikasi layanan.
Namun, tanpa langkah konkret dan strategi adaptif, tema besar yang diusung berisiko hanya menjadi slogan. Implementasi nyata di lapangan menjadi indikator utama keberhasilan koperasi dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan tekanan ekonomi.
Kegiatan RAT ke-19 ini berlangsung lancar dengan dihadiri pengurus, pengawas, anggota koperasi, serta sejumlah undangan lainnya. Meski demikian, harapan besar kini tertuju pada tindak lanjut dari hasil forum tersebut, terutama dalam memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan anggota.
Ke depan, keberhasilan KESADANTA tidak hanya diukur dari stabilitas keuangan, tetapi juga dari kemampuannya dalam memberdayakan perempuan untuk lebih mandiri, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan. Dalam konteks inilah koperasi kembali ditegaskan sebagai salah satu pilar penting ekonomi kerakyatan yang tidak boleh kehilangan relevansinya di tengah arus perubahan global.
Diterbitkan: Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur











