Jilid: II ( Dua ) Festival Kopi di Taput: Seremonial Indah, Petani Masih Menunggu Bukti Nyata

DAERAH, Uncategorized405 Dilihat

Siborongborong, Jumat 03 Oktober 2025

Ribaknews.id

Wakil Bupati Tapanuli Utara, Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng menghadiri Festival Kopi Danau Toba II Tahun 2025 di Hotel NOAH, Siborongborong, 01 Oktober 2025 Wabup hadir bersama Kadis Pertanian dan Kadis Koperindag, menegaskan dukungan Pemkab Taput terhadap sektor kopi.

Namun di balik festival yang semarak itu, kritik keras bermunculan. Banyak kalangan menilai acara seremonial tidak akan berdampak signifikan jika pemerintah tidak serius mengelola potensi kopi Taput.

Data BPS 2024 mencatat, luas lahan kopi Taput mencapai sekitar 13.000 hektare dengan produksi rata-rata 7.000–8.000 ton per tahun. Angka produktivitas masih rendah, hanya sekitar 700 kg/ha, jauh di bawah potensi optimal. Harga jual di tingkat petani pun kerap jatuh di angka Rp23.000–25.000/kg, sehingga kesejahteraan petani tidak kunjung membaik.

Sebagai perbandingan, Kabupaten Simalungun dengan luas lahan 18.000 ha mampu menghasilkan lebih dari 15.000 ton per tahun, sementara Mandailing Natal (Madina) yang dikenal sebagai penghasil kopi Arabika Sumut menembus 20.000 ton per tahun. Fakta ini menunjukkan Taput masih tertinggal dalam skala produksi, meski punya lahan luas.

“Festival itu bagus, tapi jangan hanya jadi ajang foto-foto dengan bibit. Tempatkan bibit itu di lahan tidur, jadikan perkebunan kopi baru yang dikelola serius Pemkab. Kalau tidak, kopi Taput hanya jadi cerita, bukan bukti,” tegas seorang aktivis tani di Siborongborong.

Kritik ini menohok, mengingat Taput punya ribuan hektare lahan tidur yang bisa dioptimalkan. Jika Pemkab berani membuka dan menggarap lahan baru, Taput berpotensi melampaui daerah lain di Sumut dalam produksi kopi.

Seremonial festival boleh meriah, tetapi yang ditunggu petani adalah langkah nyata: buka lahan tidur, bentuk perkebunan kopi, lindungi harga, dan jamin pasar. Tanpa itu, kopi Taput hanya akan menjadi primadona di atas panggung, bukan di kantong petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *