Siborongborong, Kamis 11 Juni 2026.
Ribaknews.id
Pembagian hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia pada Rabu (10/6/2026) memunculkan kegelisahan di kalangan sejumlah siswa lulusan SMP di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara. Mereka mengaku cemas menghadapi persaingan dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 yang dinilai semakin ketat.
Sejumlah siswa lulusan SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 4 Siborongborong yang ditemui wartawan usai menerima hasil TKA mengaku khawatir tidak mampu bersaing dalam seleksi masuk sekolah negeri.
“Kalau melihat persaingan sekarang, kemungkinan banyak dari kami yang tidak lolos. Kalau tak masuk negeri, kami bisa putus sekolah karena ekonomi orang tua kami pas-pasan,” ungkap beberapa siswa.
Mereka berharap dapat diterima di salah satu sekolah negeri yang ada di Kecamatan Siborongborong, yakni SMAN 1 Siborongborong, SMAN 2 Siborongborong maupun SMKN Siborongborong.
“Kami hanya ingin terus sekolah dan meraih cita-cita. Mudah-mudahan kami diterima di sekolah negeri. Kami minta doa agar bisa melanjutkan pendidikan,” ujar mereka.
Kecamatan Siborongborong sendiri memiliki tujuh SMP Negeri, yakni SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, SMP Negeri 4, SMP Negeri 5, SMP Negeri 6 dan SMP Negeri 7 Siborongborong. Selain itu terdapat tiga SMP swasta, yaitu SMP Santa Lucia Siborongborong, SMP Swasta Bahalbatu dan SMP Swasta Dharma Bhakti Siborongborong.
Sementara pada jenjang pendidikan menengah terdapat tiga sekolah negeri, yakni SMAN 1 Siborongborong, SMAN 2 Siborongborong dan SMKN Siborongborong. Adapun sekolah swasta yang menjadi alternatif meliputi SMA dan SMK Yayasan Dharma Bakti, SMA PGRI serta SMK Nusantara.
Ketatnya persyaratan dan persaingan dalam SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 membuat sebagian siswa dan orang tua mulai diliputi kekhawatiran. Bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian maupun pekerjaan informal lainnya, sekolah negeri masih menjadi harapan utama karena dinilai lebih terjangkau dari sisi biaya pendidikan.
Salah seorang orang tua siswa yang anaknya saat ini bersekolah di SMA PGRI Siborongborong mengungkapkan bahwa biaya SPP sekolah swasta berkisar Rp200 ribu per bulan. Menurutnya, nominal tersebut cukup berat bagi sebagian keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Meski demikian, sejumlah orang tua siswa mengaku akan tetap berupaya agar anak-anak mereka tidak sampai putus sekolah apabila nantinya tidak diterima di sekolah negeri.
“Kami berharap anak-anak kami diterima di SMA Negeri atau SMK Negeri. Tetapi kalau memang tidak lolos seleksi karena syarat SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, dengan segala kemampuan yang ada kami akan tetap menyekolahkan mereka ke sekolah swasta. Kami tidak ingin anak-anak kami putus sekolah,” ujar beberapa orang tua siswa.
Mereka menegaskan bahwa pendidikan anak merupakan prioritas utama dalam keluarga. Bahkan di tengah keterbatasan ekonomi, mereka tetap berpegang pada petuah orang Batak yang diwariskan turun-temurun, yakni Anakkonki do Hamoraon di Au, yang berarti anak-anak merupakan kekayaan paling berharga bagi orang tua.
“Anakkonki do hamoraon di au. Anak-anak itulah kekayaan bagi kami. Biar kami bekerja lebih keras, yang penting anak-anak tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ungkap mereka.
Persoalan akses pendidikan sejatinya telah dijamin oleh konstitusi. Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Pada ayat (2) disebutkan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Amanat konstitusi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan hak dasar yang harus dapat diakses seluruh warga negara. Karena itu, pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 diharapkan tetap menjunjung asas keadilan dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Di tengah ketatnya persaingan SPMB, para siswa mengaku tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya berharap memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita.
Kini, harapan besar para siswa dan orang tua di Siborongborong tertuju pada hasil seleksi yang akan datang. Bagi mereka, diterima di sekolah negeri bukan sekadar soal status, melainkan jalan untuk menjaga mimpi dan masa depan.
Sebab bagi orang tua Batak, tidak ada harta yang lebih berharga selain keberhasilan anak-anak mereka. Seperti petuah yang terus hidup di tengah masyarakat, Anakkonki do Hamoraon di Au—anak-anak adalah kekayaan yang sesungguhnya.
Di balik ketatnya persaingan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, tersimpan harapan sederhana dari para siswa dan orang tua di Siborongborong: jangan sampai keterbatasan ekonomi menjadi alasan bagi anak-anak untuk berhenti sekolah dan kehilangan masa depan mereka.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur














