HUMBANG HASUNDUTAN – Kamis 09 April 2026. Ribaknews.id
Peringatan Hari Nelayan Nasional di Kecamatan Baktiraja, Rabu (8/4/2026), menjadi momentum penting bagi nelayan tradisional di kawasan Danau Toba. Dalam kegiatan tersebut, turut dideklarasikan Forum Nelayan Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai wadah perjuangan dan konsolidasi nelayan.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Humbang Hasundutan Junita Rebeka Marbun, Anggota DPRD Poltak Purba, serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Dengan mengusung tema “Konservasi Ikan, Perlindungan Nelayan dan Masa Depan Ekosistem Danau Toba”, kegiatan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir danau.
Deklarasi Forum Nelayan dipimpin oleh Mostar Simanullang dari Kelompok Nelayan Aek Sipangolu. Pembentukan forum ini diharapkan mampu menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas nelayan, memperjuangkan hak-hak mereka, sekaligus mendorong peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan perairan.
Namun di balik semangat tersebut, kondisi nyata di kawasan Danau Toba masih menghadapi berbagai tantangan. Penurunan kualitas air, tekanan aktivitas budidaya, serta pola penangkapan yang belum sepenuhnya terkendali menjadi ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya ikan. Dampaknya, nelayan tradisional mulai merasakan penurunan hasil tangkapan dan ketidakpastian ekonomi.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan festival nelayan, seperti lomba solu atau perahu tradisional, serta penebaran benih ikan (restocking). Langkah restocking dinilai sebagai upaya awal dalam menjaga populasi ikan, meski dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan ekologis secara menyeluruh.
Sejumlah pihak menilai bahwa pembentukan Forum Nelayan harus diikuti dengan langkah konkret dari pemerintah daerah. Dukungan regulasi, penguatan kelembagaan, hingga akses terhadap program pemberdayaan menjadi faktor penting agar forum ini tidak hanya bersifat simbolis.
Selain itu, keterlibatan Hariara Institute sebagai penggagas kegiatan menunjukkan adanya dorongan kuat dari masyarakat sipil dalam menjaga kelestarian danau. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas nelayan, dan organisasi masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Peringatan Hari Nelayan Nasional ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Ke depan, diperlukan kebijakan yang lebih terarah dalam melindungi nelayan tradisional, sekaligus memastikan ekosistem Danau Toba tetap terjaga.
Jika Forum Nelayan mampu berfungsi secara optimal dan didukung penuh oleh pemerintah, maka keberadaannya dapat menjadi titik awal perubahan dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan. Sebaliknya, tanpa komitmen berkelanjutan, upaya ini berisiko menjadi agenda rutin tanpa dampak signifikan.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur










