Hami Ma Silaban, Masihol Dihasadaan — Ketika Darah dan Doa Menyatukan Dunia

Berita, DAERAH, Nasional508 Dilihat

Tipang – Humbahas, Jumat 10 Oktober 2025
Ribaknews id

Di tanah Tipang, tempat legenda dan danau bersatu, suara Gondang/Keyboard bersahutan dengan nyanyian Mars Silaban Borsak Jungjungan. Dari lereng Baktiraja yang menatap luas Danau Toba, ribuan keturunan Silaban, boru, dan bere berdiri bersama dalam satu roh: hasadaon — persatuan.
Itulah inti dari acara Partangiangan dan Periodesasi PBJS (Persatuan Borsak Jungjungan Silaban, Boru, Bere Indonesia/Dunia) yang digelar pada Jumat (10/10/2025) di Tipang, Humbang Hasundutan.

Lebih dari sekadar acara adat atau ibadah keluarga, pertemuan ini menjadi cermin sosial tentang bagaimana sebuah marga besar mampu menjaga identitas dan kebersamaan di tengah dunia yang kian individualistik.
Tema yang diangkat, “Hami Ma Silaban, Masihol Dihasadaan” (Kami, orang Silaban, rindu akan persatuan), menggugah rasa paling dalam: bahwa di balik kemajuan zaman, manusia tetap mencari rumah — dan rumah itu adalah persaudaraan.

Doa Sebagai Jembatan Generasi

Ibadah pembuka yang dipimpin oleh Pdt. Herbin Silaban, M.Th. berlangsung syahdu. Lantunan doa menggema di tengah udara sejuk Tipang, menghadirkan nuansa sakral yang jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk modernitas.
Ibadah itu bukan hanya ritual, melainkan pengakuan bahwa darah Silaban mengalir bersama doa dan tanggung jawab spiritual.

Di tengah kerinduan itu, lagu Mars Silaban Borsak Jungjungan dinyanyikan dengan penuh semangat. Bagi orang luar mungkin itu hanya lagu, tapi bagi orang Silaban, setiap baitnya adalah seruan jiwa: panggilan untuk tidak melupakan asal, bahasa, dan marwah leluhur.

Ulang Tahun ke-15: Dari Tradisi ke Transformasi

PBJS genap berusia 15 tahun sejak berdiri tahun 2010. Dalam perjalanan itu, organisasi ini tumbuh dari sekadar wadah kekeluargaan menjadi lembaga sosial budaya diaspora Batak yang matang.
Ketua Umum periode sebelumnya, Sahat Silaban, S.E., dalam sambutannya menegaskan bahwa PBJS berdiri untuk menjaga nilai, bukan jabatan. Ia mengingatkan agar persaudaraan ini tak terjebak pada seremoni, melainkan terus hidup dalam tindakan nyata — saling bantu, saling ingat, dan saling hormat antar keturunan.

Momen pemotongan kue ulang tahun yang dilakukan oleh Sahat Silaban bersama perwakilan tiga garis leluhur — Datu Bira, Datu Mangambe, dan Datu Guluan — menjadi simbol bahwa dalam Silaban, kekuatan bukan pada satu orang, tapi pada kesetiaan menjaga tiga akar sejarah yang sama.
Dari akar itulah tumbuh ranting-ranting Silaban di seluruh Indonesia, bahkan hingga luar negeri.

Regenerasi dengan Marwah: Prof. Pantas Silaban Menyambung Api

Sesi periodesasi PBJS 2025–2030 menjadi babak penting. Secara aklamasi, Prof. Dr. Drs. Pantas H. Silaban, MBA, dari keturunan Datu Mangambe, terpilih sebagai Ketua Umum PBJS Indonesia/Dunia yang baru.
Serah terima Pataka PBJS dari penasehat kepada Prof. Pantas bukan hanya pergantian struktural, tetapi pewarisan amanah — agar persaudaraan Silaban tetap menjadi lilin terang di tengah perpecahan zaman.

Dalam pidato perdananya, Prof. Pantas menegaskan visi besar PBJS ke depan:

> “Hami ma Silaban, Masihol Dihasadaan bukan sekadar slogan. Ini panggilan bagi kita semua untuk menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan sosial, ekonomi, dan moral. Kita bukan hanya satu darah, tapi satu cita.”

Pidato itu disambut tepuk tangan panjang — bukan karena wibawanya sebagai profesor, tapi karena kalimatnya menembus hati yang paling dasar: rindu akan hasadaon yang sejati.

Silaban dan Makna Sosial Persaudaraan Batak

Dalam perspektif sosial budaya, pertemuan ini menunjukkan bahwa struktur marga Batak masih menjadi jangkar identitas di era global. Di tengah arus urbanisasi dan digitalisasi, komunitas seperti PBJS menjadi ruang penyembuhan sosial — tempat orang-orang Batak kembali menemukan arti “pulang” tanpa harus menetap di kampung.

Kekuatan marga seperti Silaban bukan hanya dalam silsilah, tapi dalam rasa: saling menanggung beban, saling mendukung ketika salah satu jatuh, dan saling menghormati antar generasi. Nilai-nilai inilah yang perlahan memudar di kota-kota besar, namun tetap hidup di setiap pertemuan adat.

Dari Tipang ke Medan: Menyatukan Dunia dalam Nama Silaban

Acara ditutup dengan doa dan pengumuman bahwa Munaslub PBJS 2026 akan digelar di Medan. Sebuah simbol yang kuat: dari desa leluhur ke kota besar, dari akar ke ranting, dari tanah ke dunia.
Artinya jelas — orang Silaban boleh tersebar, tapi tak pernah tercerai.

Hasadaon Sebagai Warisan Hidup

Partangiangan dan Periodesasi PBJS 2025 bukan sekadar pertemuan, melainkan pengingat bagi generasi muda: bahwa adat bukan belenggu, melainkan petunjuk arah.
Seperti pesan leluhur di setiap upacara adat Batak: “Sai marsada hita, asa marroha tung so maringanan.” — Bersatulah kita, agar hati kita tidak menjadi asing.

Hami ma Silaban, Masihol Dihasadaan.
Kini bukan sekadar tema, tetapi janji yang diwariskan: bahwa di mana pun kita berada, doa, darah, dan persaudaraan akan selalu menyatukan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *