Humbang Hasundutan, Rabu 14 Januari 2026 Ribaknews.id
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) terus mendorong reformasi pemasyarakatan melalui pembinaan berbasis kompetensi dan penguatan kualitas sumber daya manusia warga binaan. Arah kebijakan tersebut tercermin dalam pelaksanaan kelas Bahasa Inggris bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rutan Kelas IIB Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Rabu (14/1/2026).
Program pembelajaran ini menjadi bagian dari implementasi pemasyarakatan modern yang menempatkan warga binaan sebagai subjek pembinaan, bukan semata objek penahanan. Bahasa Inggris dipilih sebagai keterampilan dasar yang relevan dengan kebutuhan adaptasi sosial, peningkatan literasi, serta kesiapan menghadapi dunia kerja pasca-pemasyarakatan.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Rutan Humbang Hasundutan tersebut didampingi langsung oleh Kasubsi Pelayanan Tahanan, Richard Lumbantoruan, bersama peserta magang yang memiliki kompetensi di bidang Bahasa Inggris. Pola kolaboratif ini sejalan dengan kebijakan Ditjen PAS yang mendorong optimalisasi sumber daya dan inovasi pembinaan di tingkat Unit Pelaksana Teknis (UPT).
Secara substansi, kelas Bahasa Inggris ini tidak hanya berfokus pada penguasaan kosakata dan percakapan dasar, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter warga binaan. Nilai disiplin, konsistensi, dan tanggung jawab menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Pendekatan ini mempertegas bahwa reformasi pemasyarakatan tidak semata berbicara soal keamanan dan ketertiban, tetapi juga tentang pembangunan manusia.
Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Humbang Hasundutan, Richard Lumbantoruan, menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing memiliki nilai strategis dalam proses reintegrasi sosial warga binaan.
“Bahasa Inggris merupakan jendela dunia yang membuka peluang baru. Penguasaan bahasa ini penting untuk meningkatkan kesiapan warga binaan saat kembali ke masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami juga menanamkan nilai disiplin, konsistensi, dan tanggung jawab sebagai fondasi pengembangan diri,” ujarnya.
Dalam kerangka kebijakan nasional, Ditjen PAS menekankan pentingnya program pembinaan yang relevan dengan perkembangan sosial dan ekonomi. Pendidikan dan pelatihan berbasis keterampilan dipandang sebagai instrumen efektif untuk menekan residivisme serta memperkuat penerimaan sosial terhadap mantan warga binaan.
Program di Rutan Humbang Hasundutan ini mencerminkan pergeseran paradigma pemasyarakatan dari pendekatan korektif menuju rehabilitatif dan produktif. Tantangan ke depan terletak pada keberlanjutan program, pengukuran capaian pembinaan, serta integrasi dengan layanan pasca-bebas agar manfaatnya berdampak jangka panjang.
Dengan menghadirkan pendidikan sebagai instrumen utama pembinaan, pemasyarakatan diarahkan menjadi ruang transformasi sosial. Kelas Bahasa Inggris ini menegaskan komitmen Ditjen PAS untuk menjadikan lembaga pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan yang adaptif, humanis, dan berorientasi masa depan.
Frish













