Counter Attack dari Sirisirisi–Baktiraja: “Nama Kami Dicatut! Hentikan Playing Victim di Humbahas”

Perang Papan Bunga Kian Panas, Camat Pollung Angkat Bicara: “Tidak Mewakili Masyarakat!”

Humbang Hasundutan, Rabu 26 November 2025 Ribsknews.id

Gelombang Balik dari Dua Desa: Papan Bunga Bantahan Muncul di Depan Kantor Bupati

Drama papan bunga di Kabupaten Humbang Hasundutan memasuki babak baru yang lebih panas dan penuh intrik. Setelah dua hari berturut-turut papan bunga pro–Wakil Bupati dipajang di pinggir jalan utama, Selasa (25/11/2025) muncul sebuah papan bunga tandingan di depan Kantor Bupati Humbahas. Papan itu datang dari perwakilan Desa Sirisirisi dan Baktiraja, dengan pesan yang tendensinya tak bisa salah dibaca: membantah keras pencatutan nama mereka sekaligus menuding adanya upaya “playing victim” di tubuh pemerintahan Humbahas.

Papan bunga itu berbunyi lugas:
“Kami dukung Bupati Humbahas untuk menghentikan permainan Playing Victim di Humbahas. Kami tidak pernah berkomentar tentang mobil dinas wakil bupati.”
Ditandatangani: Perwakilan Desa Sirisirisi & Baktiraja.

Ini bukan sekadar papan bunga—ini serangan balik yang menyasar langsung narasi yang sebelumnya dilempar lewat dua papan bunga pro–Wakil Bupati yang terpasang di pinggiran jalan, seolah membawa suara masyarakat Pollung.

Aroma Pencatutan Nama: Warga Dua Desa Merasa Digiring ke Konflik Politik

Dari penelusuran awal, papan bunga pro–Wabup yang muncul lebih dulu memakai narasi yang memberi kesan bahwa masyarakat Pollung, termasuk tokoh masyarakat Marbun, ikut mendukung dan membela Wakil Bupati terkait polemik mobil dinas.

Namun saat papan tandingan muncul, skenarionya terbalik:
Sirisirisi dan Baktiraja merasa nama mereka dipakai, diarahkan, bahkan diperalat untuk kepentingan tertentu.

Di sinilah poin investigatifnya menjadi terang:
Ada upaya membangun opini publik melalui papan bunga, tetapi dua desa yang disebut malah balik membantah keras.

Camat Pollung Imron Banjarnahor: “Ini Tidak Mewakili Masyarakat Pollung!”

Empat media—Poskotasumatera.com, Sangkakala7.tv, Radarinterpol.com, dan ribaknews.id—mengonfirmasi langsung kepada Camat Pollung, Imron Banjarnahor, untuk memastikan apakah papan bunga awal yang pro–Wabup benar mewakili masyarakat.

Jawaban Camat sangat tegas dan langsung mematahkan narasi sebelumnya.

1. Sudah Dilaporkan ke Bupati, Instruksinya Jelas

Imron menyampaikan bahwa isu papan bunga sudah ia laporkan kepada Bupati Humbang Hasundutan untuk meminta arahan.
Menurut Imron:

> “Beliau (bupati) menyampaikan bahwa apa pun yang menjadi motif dari pelaku, terkait papan bunga ini agar kita tidak perlu terlalu reaktif serta tidak perlu membuat gerakan dalam bentuk apa pun.”

Bupati meminta agar tidak ada reaksi berlebihan, dan tidak memperkeruh situasi.

2. Setelah Koordinasi, Tidak Ada Kades yang Mengaku

Imron kemudian melakukan konfirmasi menyeluruh:

Menghubungi seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Pollung,

Yang kemudian juga dikonfirmasi ulang oleh BPD masing-masing.

Hasilnya?

> “Pembuatan papan bunga ini bukan mewakili masyarakat se-Kecamatan Pollung, termasuk juga tidak mewakili tokoh masyarakat Marbun.”

Dengan kata lain:
Papan bunga pro–Wabup itu tidak memiliki legitimasi sosial.
Tidak ada struktur pemerintahan desa yang merasa dilibatkan.
Tidak ada tokoh masyarakat yang mengakui.

Jika bukan masyarakat Pollung, lalu siapa yang memasang dan mengatasnamakan mereka?

Pertanyaan ini menjadi titik investigasi paling krusial.

Papan Tandingan: Reaksi Spontan atau Counter Narrative?

Kemunculan papan bunga Sirisirisi & Baktiraja yang terpasang tepat di depan kantor Bupati bukan kebetulan.
Ini terjadi dua hari setelah papan pro–Wabup muncul berturut-turut di pinggir jalan.

Polanya terlihat jelas:

1. Narasi pro–Wabup dilempar ke publik, seolah masyarakat Pollung mendukung.

2. Dua desa merasa dicatut, lalu meluncurkan bantahan keras.

3. Lokasi pemasangannya tak main-main—di depan kantor Bupati, pusat pemerintahan.

Pesan yang ingin disampaikan terlihat gamblang:
Ada pihak yang mencoba memutarbalikkan opini publik, dan warga dua desa menolak diperalat dalam “permainan” tersebut.

Isu Mobil Dinas dan Strategi Playing Victim

Papan bunga Sirisirisi–Baktiraja menyinggung isu yang selama ini menjadi percikan konflik: mobil dinas Wakil Bupati.

Mereka menulis secara eksplisit bahwa mereka tidak pernah berkomentar soal mobil dinas tersebut—kontras dengan narasi papan sebelumnya yang seolah melibatkan masyarakat Pollung dalam membela wakil bupati.

Inilah yang kemudian mereka sebut sebagai permainan playing victim.

Dalam konteks politik lokal:

Menjadi korban adalah strategi komunikasi,

Namun ketika narasinya dianggap dipaksakan dan memakai nama masyarakat tanpa izin,

Maka akan berbalik menjadi blunder.

Papan tandingan ini membuktikan itu.

Suasana Politik Menghangat: Ada yang Bermanuver di Balik Layar?

Dari pola kemunculan papan bunga dan bantahannya, terdapat indikasi kuat:

Ada upaya menggiring opini bahwa konflik soal mobil dinas memiliki dukungan masyarakat luas,

Namun fakta di lapangan justru memperlihatkan ketakselarasan antara narasi dan realitas,

Yang berujung pada protes terbuka dari dua desa.

Instruksi Bupati agar tidak ada pihak yang “bereaksi berlebihan” menandakan bahwa ia membaca situasi ini sebagai manuver politik, bukan aspirasi murni masyarakat.

Pertanyaan investigatif yang muncul:

Siapa pemasang papan pro–Wabup?

Mengapa mengatasnamakan masyarakat Pollung?

Untuk kepentingan politik siapa opini itu ingin dibangun?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sedang ditelusuri media.

Kesimpulan: Perang Papan Bunga Masih Panjang

Peristiwa ini membuka tabir bahwa:

Dua desa menolak dicatut,

Camat Pollung menegaskan papan bunga itu bukan suara masyarakat,

Papan tandingan berbunyi keras,

Ada dugaan kuat bahwa papan awal adalah manuver politik berkedok aspirasi publik.

Drama papan bunga di Humbahas dipastikan belum akan berhenti di sini.
Namun satu hal kini jelas:

Sirisirisi dan Baktiraja tidak tinggal diam ketika nama mereka dipakai untuk permainan politik yang mereka sebut sebagai playing victim.

Redaktur: ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed