Cegah Banjir, Pemkab Humbahas Bersihkan Drainase Doloksanggul dengan Alat Berat

Uncategorized258 Dilihat

ribaknews.id

Doloksanggul – Rabu 17 September 2025

Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar pembersihan saluran air utama di Doloksanggul, Rabu (17/9/2025). Kegiatan ini dilakukan untuk mencegah banjir saat musim hujan, terutama di titik-titik rawan seperti Pasar Doloksanggul, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doloksanggul, serta Desa Pasaribu Kecamatan Doloksanggul.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Humbahas, Sabar Lampos Purba, ST, menjelaskan bahwa pembersihan ini bertujuan memastikan fungsi drainase berjalan maksimal. “Kita membersihkan tumpukan sampah, lumpur, serta endapan yang menyumbat aliran air. Diharapkan saat hujan turun deras, air tidak lagi meluap ke jalan atau permukiman,” ujar Sabar.

Petugas lapangan dikerahkan menggunakan alat berat untuk mempercepat pekerjaan. Fokus utama pembersihan diarahkan ke saluran air yang menampung limpasan dari aktivitas padat di pasar tradisional dan RSUD.

Mengapa Dilakukan?

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan banjir (Why) yang kerap terjadi di Doloksanggul. Setiap musim hujan, drainase yang tersumbat membuat genangan air meluber ke jalan raya dan pemukiman. Kondisi ini bukan hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga merugikan pedagang pasar karena barang dagangan basah dan konsumen enggan berbelanja.

RSUD Doloksanggul pun tak jarang terdampak. Jalan menuju rumah sakit yang tergenang membuat pasien kesulitan mengakses layanan kesehatan. Dengan kondisi seperti ini, pembersihan saluran air dipandang sebagai langkah mendesak.

Celah dan Tantangan (How)

Namun, sejumlah pertanyaan muncul terkait keberlanjutan kegiatan ini. Pertama, pemerintah tidak menyampaikan data teknis secara rinci: berapa panjang saluran yang dibersihkan, berapa volume sampah dan lumpur diangkat, serta berapa lama pekerjaan dilakukan. Tanpa data konkret, sulit mengukur efektivitas kegiatan ini secara transparan.

Kedua, koordinasi lintas dinas tampak terbatas. Penanganan banjir bukan hanya soal pembersihan. Dinas Pekerjaan Umum (PU) semestinya berperan dalam memastikan kapasitas drainase sesuai kebutuhan, sementara Satpol PP punya tugas menegakkan aturan larangan buang sampah sembarangan. Tanpa sinergi lintas sektor, pembersihan hanya akan jadi solusi sementara.

Ketiga, kegiatan ini belum jelas apakah masuk program rutin atau sekadar insidentil menjelang musim hujan. Jika hanya dilaksanakan musiman, rawan dicap sebagai rutinitas seremonial ketimbang solusi berkelanjutan.

Opini Publik dan Dimensi Kritis

Dari perspektif masyarakat, pembersihan drainase memang penting, tetapi bukan solusi tunggal. Warga kerap mengeluhkan bahwa banjir di Doloksanggul selalu berulang. Bahkan, pedagang pasar menilai bahwa setiap hujan deras, kerugian mereka bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari akibat barang basah dan pembeli sepi.

Di sisi lain, perilaku masyarakat juga berperan. Sampah rumah tangga dan limbah pasar yang dibuang ke selokan menjadi penyebab utama penyumbatan. Plt Kadis DLH pun menegaskan, kesadaran warga harus ditingkatkan. “Kami menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tanpa dukungan masyarakat, pembersihan ini tidak akan efektif,” kata Sabar.

Namun, himbauan saja seringkali tidak cukup. Publik mempertanyakan apakah pemerintah daerah berani menerapkan sanksi tegas bagi pembuang sampah sembarangan. Tanpa penegakan aturan, drainase yang baru dibersihkan akan kembali tersumbat hanya dalam hitungan minggu.

Tata Kota yang Dipertanyakan

Kritik lain muncul soal perencanaan tata kota. Pertanyaan mendasar: apakah sistem drainase Doloksanggul memang dirancang menampung debit air yang meningkat setiap tahun? Dengan bertambahnya aktivitas di pasar, rumah sakit, dan kawasan permukiman, kebutuhan kapasitas drainase juga semakin besar.

Pembersihan saluran air memang bisa meredakan masalah sesaat, tetapi tanpa evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur, banjir berpotensi tetap menjadi tamu tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa banjir bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan juga perencanaan pembangunan.

Kesimpulan

Pembersihan saluran air di Doloksanggul adalah langkah positif pemerintah Humbahas dalam menghadapi musim hujan. Tetapi publik berhak mengingatkan bahwa solusi banjir tidak bisa berhenti pada pembersihan sesaat. Diperlukan koordinasi lintas dinas, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, hingga keberanian menerapkan sanksi hukum.

Jika tidak, setiap musim hujan, Doloksanggul akan terus jadi langganan banjir. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah kegiatan ini benar-benar strategi mitigasi, atau hanya rutinitas tahunan yang sekadar mengulang cerita lama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *