Balige — Ribaknews.id
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Balige, di bawah naungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia Sumatera Utara, menggelar kegiatan buka puasa bersama yang melibatkan petugas, warga binaan pemasyarakatan (WBP), serta keluarga mereka. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (12/3/2026) ini menjadi momentum penting dalam membangun pendekatan pembinaan yang lebih humanis sekaligus mempererat hubungan sosial antara warga binaan dengan keluarga mereka.
Acara berlangsung di Lapangan Sisingamangaraja Rutan Balige dan dihadiri langsung oleh Kepala Rutan Balige, pejabat struktural, seluruh petugas pemasyarakatan, warga binaan, serta keluarga mereka yang diundang secara khusus dalam suasana Ramadan yang penuh kebersamaan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial berbuka puasa, tetapi juga merupakan bagian dari strategi pembinaan sosial yang menempatkan keluarga sebagai elemen penting dalam proses rehabilitasi warga binaan. Dalam sistem pemasyarakatan modern, hubungan emosional dengan keluarga dipandang sebagai faktor penting yang dapat mempercepat proses reintegrasi sosial setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya.
Seluruh petugas Rutan Balige terlibat langsung dalam persiapan kegiatan tersebut. Mereka menyiapkan berbagai menu berbuka, mulai dari takjil hingga hidangan utama yang disajikan secara bersama-sama. Kehadiran petugas dalam proses pelayanan tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih partisipatif dalam membangun interaksi positif antara aparat pemasyarakatan dengan warga binaan.
Menu yang disajikan beragam, mulai dari minuman pembuka, makanan ringan khas berbuka puasa, hingga hidangan utama yang dapat dinikmati secara bersama-sama oleh warga binaan dan keluarga mereka. Penataan makanan serta pengaturan lokasi kegiatan juga dirancang untuk menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif.
Kepala Rutan Balige, David Nicolas, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat lingkungan pembinaan yang positif di dalam rumah tahanan.
Menurutnya, pendekatan pembinaan tidak hanya dilakukan melalui program formal seperti kegiatan keagamaan, pendidikan, atau pelatihan keterampilan, tetapi juga melalui kegiatan sosial yang mampu memperkuat ikatan emosional warga binaan dengan keluarga mereka.
“Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, kami ingin membangun suasana kebersamaan yang lebih hangat antara warga binaan dengan keluarga mereka. Kami berharap momentum Ramadan ini dapat menjadi semangat bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan di Rutan Balige,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep sistem pemasyarakatan yang menekankan bahwa warga binaan bukan hanya objek hukuman, tetapi juga subjek pembinaan yang harus dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat.
Dalam perspektif kriminologi modern, dukungan keluarga memiliki peran signifikan dalam menurunkan risiko residivisme atau pengulangan tindak pidana. Hubungan emosional yang tetap terjaga selama masa pembinaan dapat membantu warga binaan mempertahankan motivasi untuk berubah serta mempercepat proses adaptasi sosial setelah bebas.
Antusiasme keluarga warga binaan terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbincang langsung dengan anggota keluarga yang sedang menjalani masa pembinaan.
Bagi sebagian keluarga, momen tersebut memiliki makna emosional yang mendalam. Selain dapat berbuka puasa bersama, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk memastikan kondisi anggota keluarga mereka yang berada di dalam Rutan Balige.
Suasana hangat dan penuh haru tampak ketika warga binaan dan keluarga mereka saling bertukar cerita di sela-sela kegiatan berbuka puasa. Momen tersebut menjadi ruang emosional yang jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah tahanan.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek pengamanan, tetapi juga pada pembangunan nilai-nilai sosial, spiritual, dan kemanusiaan.
Melalui pendekatan yang kolaboratif dan partisipatif, Rutan Balige berupaya menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih terbuka dan adaptif terhadap kebutuhan psikologis warga binaan.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam semangat kerja yang diusung oleh Rutan Balige melalui slogan internal mereka, yakni “RUBAGE KERAS” yang mencerminkan prinsip kerja: kolaboratif, edukatif, responsif, amanah, dan sinergi.
Dengan pendekatan tersebut, lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai ruang transformasi sosial bagi warga binaan untuk membangun kembali masa depan mereka setelah bebas nanti.
Diterbitkan: Media Ribak News
Penulis/Redaktur










