Siborongborong, Senin 13 April 2026. Ribaknews.id
Rangkaian pengungkapan kasus narkotika di Bandara Internasional Sisingamangaraja XII Silangit kembali memantik perdebatan tajam di ruang publik. Di satu sisi, kinerja Polres Tapanuli Utara menuai apresiasi atas keberhasilan menangkap pelaku dan mengamankan barang bukti. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan krusial yang tidak bisa dihindari: apakah narasi yang berkembang telah menggambarkan fakta secara utuh?
Sebelumnya, publik dikejutkan oleh pengakuan seorang pelaku yang menyebut telah empat kali berhasil meloloskan narkotika melalui Bandara Silangit sebelum akhirnya tertangkap pada percobaan kelima. Fakta ini sontak memicu kritik luas terhadap sistem keamanan bandara, bahkan menjadikannya sebagai titik lemah dalam jalur distribusi narkoba lintas provinsi.
Tekanan publik yang masif—didorong oleh pemberitaan media lokal hingga nasional—berujung pada pergantian Kepala Bandara. Langkah ini menjadi sinyal bahwa ada persoalan serius yang tidak bisa dianggap sepele.
Namun, pasca pergantian tersebut, dinamika berubah secara signifikan.
Dalam pengungkapan terbaru, dua pelaku berinisial I alias Yani (63) dan MAA alias Ali (38), warga Samarinda, berhasil diamankan saat hendak terbang dari Silangit menuju Kalimantan Timur melalui Jakarta. Dari tangan keduanya, petugas menemukan narkotika jenis sabu dengan berat bruto sekitar 2.045 gram yang disembunyikan dalam tas.
Yang menarik, berdasarkan kronologi resmi, kecurigaan pertama justru datang dari petugas keamanan bandara (Avsec) saat proses check-in. Barang bawaan pelaku dinilai mencurigakan, lalu diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah itu, dilakukan koordinasi dengan pihak kepolisian yang kemudian mengambil alih proses penindakan.
Fakta ini menjadi titik kunci yang sering luput dalam narasi publik.
Sebab, tanpa deteksi awal dari kru bandara:
tidak ada pengamanan barang
tidak ada pemanggilan pelaku
tidak ada pengungkapan kasus
Artinya, keberhasilan ini tidak berdiri sendiri.
Dalam sistem keamanan penerbangan, terdapat rantai kerja yang tidak terpisahkan: screening oleh Avsec, deteksi anomali, koordinasi lintas pihak, hingga penindakan oleh aparat penegak hukum. Setiap tahap memiliki peran vital yang saling bergantung.
Namun, dalam praktiknya, yang sering terjadi adalah penyederhanaan narasi.
Ketika pelaku berhasil lolos, bandara menjadi pihak yang paling disorot dan disalahkan. Sebaliknya, ketika pelaku berhasil ditangkap, apresiasi cenderung terpusat pada aparat penegak hukum. Pola ini menciptakan ketimpangan persepsi publik terhadap bagaimana sistem sebenarnya bekerja.
Padahal, kasus terbaru justru menunjukkan indikasi bahwa sistem di bandara mulai berjalan lebih optimal. Deteksi dilakukan lebih awal, respons lebih cepat, dan koordinasi berlangsung efektif. Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari faktor manajerial, termasuk pasca pergantian pimpinan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan lanjutan yang relevan secara jurnalistik:
apakah sebelumnya terdapat kelemahan dalam implementasi sistem, dan apakah saat ini telah terjadi pembenahan signifikan?
Pertanyaan tersebut penting, bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, tetapi untuk memastikan bahwa evaluasi dilakukan secara objektif dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, perlu ditegaskan bahwa klaim kinerja tidak boleh dibangun secara sepihak.
Keberhasilan pengungkapan kasus narkotika di Bandara Silangit adalah hasil dari kerja kolektif. Polisi berperan dalam penindakan dan pengembangan jaringan, sementara bandara—melalui Avsec dan sistem pengamanannya—berperan dalam deteksi awal yang menjadi dasar dari seluruh proses tersebut.
Mengabaikan salah satu peran berarti mengaburkan fakta.
Lebih jauh, pengabaian ini berpotensi menimbulkan dampak negatif, baik terhadap moral petugas di lapangan maupun terhadap kualitas evaluasi sistem keamanan secara keseluruhan. Publik berhak mendapatkan informasi yang utuh, bukan narasi yang terfragmentasi.
Dalam menghadapi ancaman narkotika lintas wilayah yang semakin kompleks, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah klaim sepihak, melainkan penguatan sinergi antar lembaga.
Kasus di Silangit memberikan pelajaran penting:
bahwa ketika sistem bekerja dengan baik, upaya penyelundupan dapat digagalkan sejak awal. Namun ketika sistem lemah atau tidak dijalankan optimal, celah akan selalu dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan.
Oleh karena itu, alih-alih memperdebatkan siapa yang paling berhak atas klaim keberhasilan, fokus seharusnya diarahkan pada bagaimana memastikan seluruh elemen—baik bandara maupun aparat penegak hukum—dapat terus bekerja secara terintegrasi.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra institusi, melainkan keamanan publik secara luas.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur














