Humbang Hasundutan, Selasa 02 Desember 2025 Ribaknews.id
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan menggelar apel gabungan terakhir masa tanggap darurat pasca bencana longsor dan banjir yang melanda wilayah Lumban Sihotang, Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat. Apel yang berlangsung Selasa sore itu dipimpin langsung oleh Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, sebagai inspektur upacara. Suasana berlangsung khidmat dan penuh keharuan, menjadi penanda berakhirnya fase paling kritis dari operasi penyelamatan pascabencana yang telah berlangsung selama tujuh hari.
Apel gabungan ini menjadi momentum reflektif atas kerja keras seluruh unsur penanganan bencana serta penghormatan terakhir bagi para korban yang meninggal maupun yang masih belum ditemukan. Kehadiran lintas institusi memperlihatkan solidaritas penuh terhadap tragedi yang menimpa warga Panggugunan dan Pulo Godang.
Forkopimda Lengkap Hadir, Simbol Kekuatan Kolaboratif
Sejumlah pejabat daerah hadir lengkap dalam apel gabungan tersebut. Di antaranya, Kapolres Humbang Hasundutan AKBP Arthur Sameaputty, Kajari Humbang Hasundutan Donald Togi Joshua Situmorang, MH, Pabung 0210/TU Mayor Arm G. Sebayang, serta para Anggota DPRD Humbang Hasundutan. Hadir pula Ketua TP PKK Ny. Erma Oloan Paniaran Nababan, jajaran BNPB, Tim SAR gabungan, TNI–Polri, relawan, pemerhati kemanusiaan, hingga ribuan elemen masyarakat.
Kehadiran mereka bukan seremonial semata. Sejak hari pertama bencana, kolaborasi lintas instansi telah menjadi penopang utama operasi pencarian, evakuasi, hingga pendataan korban. Apel penutup ini sekaligus menegaskan bahwa penanganan bencana di Humbang Hasundutan bukan sekadar tugas teknis, tetapi bagian dari komitmen moral dan tanggung jawab negara terhadap keselamatan warganya.
Bupati Oloan: “Duka Ini Milik Kita Bersama”
Dalam amanatnya, Bupati Dr. Oloan Paniaran Nababan menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah bekerja tanpa kenal lelah selama masa tanggap darurat.
> “Hari ini kita berkumpul, dengan hati berduka. Kita mengenang saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah longsor, terutama di Desa Panggugunan dan Pulo Godang. Bencana ini telah merenggut saudara-saudara kita, meninggalkan luka mendalam di hati kita semua, terlebih bagi keluarga korban,” ucap Bupati.
Suara Bupati bergetar saat menyampaikan doa khusus bagi keluarga korban yang masih dalam pencarian, terutama Roy Simanullang (19 tahun), remaja yang hingga kini belum ditemukan sejak terseret longsor beberapa hari lalu.
> “Kiranya Tuhan memberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Bencana ini adalah duka kita bersama. Semoga Tuhan menguatkan seluruh keluarga dan kita semua yang terlibat dalam penanganan darurat ini,” lanjutnya.
Selain menyampaikan duka, Bupati juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti pada formalitas apel penutup. Pemkab Humbang Hasundutan berkomitmen untuk memastikan tahapan berikutnya—rehabilitasi dan rekonstruksi—berjalan tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.
Ibadah, Penaburan Bunga, dan “Boras Sipirni Tondi”: Menguatkan yang Berduka
Usai apel gabungan, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah penghiburan yang dipimpin Pdt. Okuli Sitohang, S.Th. Ibadah tersebut menghadirkan suasana hening dan khusyuk, menjadi ruang bagi unsur pemerintahan, aparat, dan masyarakat untuk bersama-sama meresapi kehilangan yang terjadi.
Selanjutnya dilakukan prosesi penaburan bunga di lokasi bencana, sebuah simbol penghormatan terakhir kepada para korban yang telah ditemukan maupun yang masih dinyatakan hilang. Di titik yang sama, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan menyerahkan “Boras Sipirni Tondi” kepada keluarga korban—sebuah tradisi adat Batak yang bermakna doa penguatan jiwa, simbol bahwa duka mereka tidak ditanggung sendirian.
Gestur ini memiliki makna sosial yang dalam. Selain penghormatan budaya, ia sekaligus menjadi pernyataan bahwa pemerintah hadir bukan sekadar sebagai penyelenggara protokol, tetapi sebagai sesama manusia yang merasakan kehilangan.
Kondisi Lapangan: Kerja Keras Tim SAR dan Tantangan Medan
Selama masa tanggap darurat, tim gabungan dari SAR, TNI–Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat bekerja di medan yang sangat berat. Struktur tanah yang labil, curah hujan tinggi, serta akses jalan yang terputus membuat proses pencarian dan evakuasi berlangsung penuh risiko. Alat berat dikerahkan, namun tetap terkendala kondisi geologis di beberapa titik.
Meski demikian, sejumlah korban berhasil ditemukan dalam beberapa hari terakhir. Tim SAR juga melakukan penyisiran hingga radius yang lebih jauh dari pusat longsor untuk mencari korban yang kemungkinan terbawa arus. Namun satu korban, yakni Roy Simanullang, masih belum ditemukan hingga penutupan apel.
Pemerintah dan tim SAR masih akan mengevaluasi apakah pencarian lanjutan dapat terus dilakukan atau masuk pada tahapan monitoring pasca darurat. Keputusan ini akan mempertimbangkan kondisi medan, cuaca, dan rekomendasi dari Tim SAR gabungan.
Pasca Tanggap Darurat: Tantangan Besar Menanti
Berakhirnya tanggap darurat bukan berarti berakhirnya masalah. Justru setelah fase ini, dimulai pekerjaan besar berikutnya: rehabilitasi dan rekonstruksi.
Beberapa agenda yang menjadi fokus pemerintah daerah antara lain:
1. Pendataan kerusakan rumah, lahan, dan fasilitas umum untuk menentukan kategori bantuan.
2. Relokasi sementara bagi warga yang rumahnya berada di zona merah rawan longsor.
3. Pemulihan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban.
4. Pemulihan infrastruktur, termasuk jalan yang sempat terputus dan jembatan yang rusak.
5. Penyelidikan penyebab bencana, termasuk kemungkinan faktor tata ruang, kondisi hulu, dan tingkat kerentanan lereng.
Pemkab Humbang Hasundutan telah berkoordinasi dengan BNPB dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk memastikan dukungan anggaran serta teknis berjalan mulus pada tahap berikutnya.
Solidaritas Warga Mengalir, Duka Mengikat Semua Pihak
Selama masa darurat, solidaritas warga dari berbagai desa sekitar terus mengalir. Mereka memasak di dapur umum, membantu distribusi logistik, hingga ikut terlibat dalam pencarian korban sejak hari pertama. Semangat ini menjadi bukti bahwa bencana tidak hanya membawa air mata, tetapi juga menghidupkan kembali nilai gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Batak.
Di akhir kegiatan, Bupati Oloan kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan warga yang terdampak. “Kita akan bangkit bersama. Pemerintah hadir dan akan terus hadir,” ujarnya.
Hari Duka yang Membuka Jalan Pemulihan
Apel gabungan penutup tanggap darurat ini menjadi titik balik bagi warga Panggugunan dan Pulo Godang. Setelah hari-hari penuh kecemasan, kini mereka memasuki babak baru: fase pemulihan jangka panjang. Meski luka belum sembuh, dukungan dari pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat luas menjadi fondasi untuk terus melangkah.
Duka memang belum selesai, terutama bagi keluarga korban yang belum ditemukan. Namun solidaritas hari itu menunjukkan bahwa Humbang Hasundutan berdiri bersama—dalam kehilangan, dalam doa, dan dalam harapan untuk bangkit kembali.
Jonaer Silaban
Diterbitkan: ribaknews.id










