Friedrich Silaban dan Arsitektur sebagai Bahasa Kebangsaan

Jakarta, Selasa 03 Februari 2026 Ribaknews.id

Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd.

Oleh sejarah, bangsa besar tidak hanya diingat melalui tokoh politik dan peristiwa revolusi, tetapi juga melalui karya-karya peradaban yang membentuk kesadaran kolektif. Dalam konteks Indonesia, nama Friedrich Silaban menempati posisi istimewa sebagai arsitek yang menjadikan bangunan bukan sekadar ruang fisik, melainkan bahasa kebangsaan. Ia bukan hanya perancang gedung, tetapi perumus makna tentang Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan berkepribadian.

Friedrich Silaban (1912–1984) lahir di Bonan Dolok, Samosir, Sumatera Utara, dari latar belakang sederhana. Ia menapaki jalan arsitektur melalui pendidikan, pengalaman profesional, dan pengabdian panjang di institusi negara. Namun yang membedakannya dari banyak arsitek sezamannya bukan semata keahlian teknis, melainkan kesadaran ideologis bahwa arsitektur adalah bagian dari proyek besar pembangunan bangsa.

Dalam refleksi pemikiran Dr. Eriko Silaban, pembangunan tidak dapat dipersempit sebagai aktivitas fisik dan ekonomi. Pembangunan adalah proses pembentukan peradaban (nation and civilization building). Pandangan ini menemukan relevansinya secara nyata dalam karya-karya Friedrich Silaban, yang menempatkan arsitektur sebagai medium pembentukan kesadaran kebangsaan.

Kedekatan Silaban dengan Presiden Soekarno menjadi penanda penting. Pada masa awal kemerdekaan, Soekarno memahami bahwa bangunan negara harus berbicara—menyampaikan pesan tentang kemerdekaan, harga diri bangsa, dan cita-cita masa depan. Di tangan Silaban, visi itu diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur modern yang tegas, monumental, dan bebas dari bayang-bayang kolonial.

Mahakarya paling simbolik dari Friedrich Silaban adalah Masjid Istiqlal. Dirancang setelah memenangkan sayembara nasional dengan sandi “Ketuhanan” pada 1954, masjid ini bukan hanya rumah ibadah, tetapi monumen kemerdekaan dan toleransi. Fakta bahwa perancangnya adalah seorang Kristen Protestan justru mempertegas pesan kebhinekaan yang menjadi fondasi Indonesia. Istiqlal berdiri sebagai bukti bahwa nasionalisme Indonesia tidak dibangun di atas eksklusivitas, melainkan penghormatan terhadap perbedaan.

Masjid Istiqlal juga mencerminkan prinsip arsitektur Silaban: sederhana, kokoh, dan bermakna. Tidak berlebihan dalam ornamen, namun kuat dalam pesan. Bangunan ini mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu hadir melalui kerumitan bentuk, tetapi melalui kejernihan gagasan.

Selain Istiqlal, jejak Friedrich Silaban tersebar dalam berbagai bangunan strategis negara: Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Pembebasan Irian Barat, Gedung DPR/MPR RI (eks Conefo), Tugu Khatulistiwa Pontianak, hingga gedung-gedung Bank Indonesia dan BNI. Kesemuanya merepresentasikan upaya membangun identitas Indonesia sebagai bangsa modern yang berdiri sejajar dengan dunia, tanpa kehilangan akar kebangsaannya.

Namun kontribusi Silaban tidak berhenti pada bangunan fisik. Ia juga berperan penting dalam sejarah profesi arsitek Indonesia melalui keterlibatannya dalam pendirian Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 1959. Dalam pandangannya, arsitektur adalah profesi bermartabat yang mengandung tanggung jawab moral, bukan sekadar aktivitas bisnis yang berorientasi keuntungan. Sikap ini menunjukkan integritas intelektual dan etika profesi yang kuat—nilai yang kian relevan di tengah arus komersialisasi pembangunan dewasa ini.

Yang patut direnungkan, sebagaimana dicatat Dr. Eriko Silaban, Friedrich Silaban menjalani hidup dengan pengabdian tanpa kepentingan pribadi. Ia tidak meninggalkan warisan materi berlimpah, tetapi meninggalkan karya-karya monumental yang manfaat dan maknanya dirasakan lintas generasi. Dalam konteks ini, Silaban mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang tokoh bangsa bukanlah akumulasi kekayaan, melainkan daya tahan nilai dari karya yang ditinggalkannya.

Ketika Friedrich Silaban wafat pada 14 Mei 1984, Indonesia kehilangan salah satu perancang bahasa visual kebangsaannya. Namun hingga kini, bangunan-bangunannya masih “berbicara”—tentang nasionalisme, toleransi, dan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.

Karena itu, gagasan bahwa negara semestinya memberikan penghormatan yang layak kepada Friedrich Silaban bukan sekadar tuntutan simbolik, melainkan kebutuhan historis dan edukatif. Penghormatan semacam itu penting agar generasi hari ini dan masa depan memahami bahwa pembangunan sejati selalu bertaut dengan nilai, identitas, dan karakter bangsa.

Friedrich Silaban telah menunjukkan bahwa arsitektur bisa menjadi alat perjuangan kultural. Ia menulis sejarah bukan dengan kata-kata, tetapi dengan beton, baja, dan ruang—yang hingga kini terus mengajarkan kita arti Indonesia.

Penulis: Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd./ Jonaer Silaban, S.Pd

Diterbitkan Media Ribak News
Redaktur: Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *