Kamis 02 April 2026 Lintongnihuta. Ribaknews.id
Peristiwa dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Desa Nagasaribu, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, pada Rabu, 1 April 2026. Insiden ini melibatkan sedikitnya 13 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui program tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media di lapangan, para siswa yang terdampak berasal dari sejumlah sekolah di wilayah Desa Nagasaribu, termasuk UPT SD Negeri 028 Nagasaribu, SMP Negeri 016 Nagasaribu, serta SMA Negeri 3 Lintongnihuta. Seluruh korban sempat mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Sigompul sebelum sebagian dari mereka dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doloksanggul untuk penanganan lanjutan.
Kejadian bermula pada Rabu siang, sesaat setelah para siswa mengonsumsi makanan dari program MBG yang disalurkan di sekolah masing-masing. Tidak lama setelah itu, sejumlah siswa dilaporkan mulai mengalami gejala gangguan kesehatan yang mengarah pada dugaan keracunan makanan. Meski jenis gejala yang dialami belum dijelaskan secara rinci oleh pihak medis, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan sehingga pihak sekolah dan tenaga kesehatan segera mengambil langkah evakuasi.
Sebanyak 13 siswa kemudian dilarikan ke Puskesmas Sigompul untuk mendapatkan penanganan awal. Tim medis setempat langsung melakukan observasi dan penanganan terhadap seluruh siswa yang datang dengan keluhan serupa. Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih empat jam, kondisi sebagian siswa dilaporkan mengalami penurunan sehingga memerlukan penanganan lebih intensif di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Dari total 13 siswa tersebut, sebanyak 7 orang akhirnya dirujuk ke RSUD Doloksanggul. Di antara mereka terdapat satu siswa dari UPT SD Negeri 028 Nagasaribu yang turut mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan. Para siswa yang dirujuk langsung ditangani di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapatkan penanganan medis secara intensif.
Sementara itu, lima siswa lainnya yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Sigompul diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dinyatakan membaik oleh tenaga medis. Mereka dipulangkan setelah menjalani observasi selama kurang lebih empat jam dan dinilai tidak lagi memerlukan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Perkembangan kondisi para siswa yang dirujuk ke RSUD Doloksanggul menunjukkan adanya perbaikan secara bertahap. Berdasarkan hasil konfirmasi yang dihimpun awak media, pada Rabu malam sekitar pukul 21.15 WIB, lima dari tujuh siswa yang dirujuk tersebut telah diperbolehkan pulang. Sementara dua siswa lainnya masih menjalani perawatan inap untuk pemantauan lebih lanjut oleh tim medis rumah sakit.
Selain siswa dari tingkat SD dan SMP, informasi tambahan yang diperoleh dari pihak SMA Negeri 3 Lintongnihuta juga mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah siswa dan seorang tenaga pendidik yang turut mengalami gejala serupa. Data tersebut merupakan hasil konfirmasi langsung awak media kepada Kepala SMA Negeri 3 Lintongnihuta, Rumondang Sihombing.
Adapun siswa yang dilaporkan mengalami gejala tersebut antara lain Elisa Simarmata (17), Anisa Andat Tumanggor (18), Bungaria Lumbantoruan (16), Rini Nababan (20), dan Suhardi Lumbantoruan (18). Selain itu, seorang guru bernama Meiva Sitinjak (46), yang merupakan pengajar Geografi di sekolah tersebut, juga dilaporkan mengalami kondisi serupa dan telah mendapatkan penanganan medis.
Kepala SMA Negeri 3 Lintongnihuta, Rumondang Sihombing, membenarkan adanya siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan pada hari kejadian. Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti dari kondisi tersebut dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak medis.
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Kepala SMP Negeri 016 Nagasaribu, Heppy Naibaho. Ia menyampaikan bahwa pihak sekolah belum dapat menarik kesimpulan terkait penyebab kejadian yang menimpa para siswa. Menurutnya, diperlukan hasil resmi dari pihak rumah sakit sebagai dasar untuk menentukan apakah kejadian tersebut benar merupakan keracunan makanan atau disebabkan oleh faktor lain.
Di sisi lain, pihak kepolisian yang dikonfirmasi oleh awak media menyarankan agar koordinasi lebih lanjut dilakukan dengan pihak penyelenggara program MBG. Hal ini mengingat makanan yang dikonsumsi oleh para siswa berasal dari program tersebut, sehingga perlu dilakukan penelusuran menyeluruh terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan.
Namun demikian, upaya konfirmasi kepada pihak pengelola dapur MBG di Desa Nagasaribu belum membuahkan hasil. Saat didatangi oleh awak media, lokasi dapur dalam keadaan tertutup dan tidak ada pihak yang dapat memberikan keterangan terkait kejadian tersebut. Kondisi ini tentu menjadi kendala dalam proses pengumpulan informasi secara menyeluruh.
Hingga Kamis, 2 April 2026, belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pihak RSUD Doloksanggul terkait penyebab pasti dari dugaan keracunan yang dialami para siswa. Pihak rumah sakit masih melakukan observasi dan penanganan medis terhadap pasien yang dirawat, serta kemungkinan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan sumber penyebab kejadian.
Peristiwa ini pun masih berada dalam tahap penelusuran dan belum dapat disimpulkan secara pasti sebagai kasus keracunan makanan yang bersumber dari program MBG. Diperlukan investigasi lebih lanjut, baik dari pihak medis maupun instansi terkait, guna memastikan faktor penyebab serta mencegah terjadinya kejadian serupa di masa mendatang.
Seiring dengan berkembangnya informasi, awak media terus berupaya melakukan konfirmasi kepada berbagai pihak terkait, termasuk dinas kesehatan dan pihak penyelenggara program MBG. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat, berimbang, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Kejadian ini menjadi perhatian serius, mengingat melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan serta berkaitan dengan program pemerintah yang menyasar kebutuhan gizi anak sekolah. Oleh karena itu, transparansi dan kecepatan dalam penyampaian informasi dari pihak terkait sangat diharapkan guna memberikan kepastian kepada masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi para siswa yang terdampak dilaporkan berangsur membaik. Namun demikian, proses pemantauan tetap dilakukan oleh tenaga medis untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan yang membahayakan kesehatan para siswa.
Media akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan menyampaikan informasi terbaru seiring dengan adanya keterangan resmi dari pihak berwenang.
Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur











