Humbang Hasundutan, Rabu 15 Oktober 2025
Ribaknews.id
Di kawasan Bukit Inspirasi yang menjadi kompleks perkantoran Bupati Humbang Hasundutan — dihiasi deretan pohon hias yang tertata rapi — suasana tampak teduh dan tertib saat Bupati Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH., MH. berbincang dengan sejumlah insan pers, Rabu (15/10/2025).
Dengan nada tenang namun tegas, Bupati Oloan menyampaikan pesan moral tentang makna kebebasan pers yang sejati.
> “Pers bukan lawan pemerintah, melainkan mitra untuk mengawal kebenaran. Pemerintah butuh kritik yang membangun, bukan serangan yang menyesatkan,” ujarnya bersahabat.
Ia menegaskan, menjalankan roda pemerintahan bukanlah pekerjaan mudah. Banyak sistem yang harus dibenahi — mulai dari peningkatan sumber daya manusia, mentalitas pelayanan publik, hingga pola komunikasi yang transparan dan efektif. Karena itu, peran media sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang informasi, bukan penyulut ketidakpercayaan masyarakat.
> “Kami bekerja siang dan malam agar masyarakat benar-benar merasakan hasil pembangunan. Kritik kami butuhkan, tapi janganlah kebaikan dirusak oleh berita yang menyesatkan,” tambahnya.
Bupati Oloan juga menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab moral dalam profesi jurnalistik. Menurutnya, jurnalis bukan sekadar penyampai berita, tetapi penjaga nurani publik.
> “Bekerjalah dengan hati. Jangan menjual nama orang demi ketenaran. Tuhan tahu apa yang kita kerjakan, dan setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan,” pesannya.
Pandangan itu diamini oleh Plt. Kepala BKPSDM Humbahas, Benyamin Nababan, M.M., yang menegaskan komitmen pemerintah terhadap keterbukaan informasi publik. Menurutnya, pejabat dan ASN harus siap menerima kritik selama disampaikan secara objektif dan berdasar fakta.
> “Pers adalah mitra sejati pemerintah. Melalui pemberitaan yang berimbang, masyarakat dapat menilai kinerja kami secara adil. Kritik itu penting, asalkan disertai data dan niat baik,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis Frish H. Silaban dari Media Putra Bhayangkara Humbahas menyambut baik pesan moral tersebut. Ia menilai, ajakan Bupati Oloan merupakan refleksi penting bagi insan pers agar tidak keluar dari koridor etika dan profesionalisme.
> “Kami siap menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif. Kritik itu vitamin bagi demokrasi, tapi harus dibangun di atas fakta, bukan amarah,” tegasnya.
Frish juga menyinggung realitas lapangan yang sering dihadapi jurnalis daerah: antara idealisme dan tekanan ekonomi media.
> “Justru di situ ujian sejati jurnalis — tetap berpijak pada kebenaran meski arus kepentingan datang silih berganti,” ujarnya menambahkan.
Pertemuan di Bukit Inspirasi itu menjadi ruang refleksi bersama bahwa kebebasan pers dan keterbukaan pemerintah bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu nilai yang sama — kejujuran dan tanggung jawab.
Dari ruang terbuka yang dihiasi pohon hias dan semangat kebersamaan itu, terpatri makna: bahwa pers merdeka bukan berarti pers semaunya, tetapi pers yang bermartabat, beretika, dan berani berdiri di garis kebenaran.







