Lereng Sumatera Menangis: Longsor Menelan Jiwa, Kelangkaan BBM Mematikan Nafas Ekonomi

Delapan hari pascabencana, warga Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara menghadapi pukulan kedua: BBM mendadak langka di tujuh SPBU penyangga, menyebabkan logistik terhenti, pencarian korban melambat, dan perekonomian warga mati suri.

Tapanuli Utara – Humbahas, Selasa 02 Desember 2025 Ribaknews.id

Di Antara Lumpur dan Antrian BBM yang Mengular

Delapan hari setelah longsor dan banjir bandang menyapu sejumlah wilayah di Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara, lereng Bukit Barisan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Alat berat masih bekerja membuka badan jalan yang tertimbun lumpur, tim SAR berjibaku mencari korban yang hilang, sementara warga di desa-desa terdampak berupaya menata rumah dan membersihkan sisa material.

Namun, sebelum napas pulih dari bencana alam, pukulan kedua datang tanpa ampun: kelangkaan BBM secara masif dan bersamaan di tujuh SPBU yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas dua kabupaten.

Antrean ratusan meter mengular di Siborongborong, Doloksanggul, Pollung, hingga Tarutung. Warga membawa jeriken bukan untuk menimbun, tetapi karena sepeda motor mereka sudah kehabisan bensin sebelum sempat bergerak dari rumah.

“Ini bencana yang datang bertubi-tubi,” kata seorang warga di Pollung.

Peta Kelumpuhan: Tiga SPBU Humbahas dan Empat di Taput dalam Kondisi Kritis

Humbang Hasundutan

1. SPBU Nagasaribu (gerbang masuk dari Siborongborong)

2. SPBU Kota Doloksanggul

3. SPBU Pollung (jalur utama Paranginan–Baktiraja)

Tapanuli Utara

1. SPBU Pusat Kota Siborongborong

2. SPBU Pariksabungan

3. SPBU Sipoholon

4. SPBU Tarutung – depan terminal

Seluruh SPBU mengalami gejala serupa:

Bensin habis sebelum siang

Solar kosong 2–3 hari berturut-turut

Antrean masyarakat mencapai 400–500 meter

Operasional terbatas dan tidak konsisten

Warga yang terdampak bencana pun terjebak dalam situasi paradoks: logistik harus segera masuk, tetapi bahan bakar untuk bergerak tidak tersedia.

Krisis Ganda: Ketika Longsor dan Kelangkaan BBM Saling Mengganda

1. Evakuasi dan Pencarian Korban Melambat

Mobil SAR dan kendaraan lapangan antre bersama warga. Relawan mengaku perjalanan yang biasanya 15 menit berubah menjadi satu jam hanya untuk mengisi BBM.

2. Distribusi Bantuan Terhambat

Sembako untuk desa-desa terdampak seperti Pakkat, Onanganjang, dan Baktiraja tidak bisa dikirim tepat waktu. Truk logistik hanya diizinkan mengisi puluhan liter, tidak cukup menjangkau desa terpencil.

3. Perekonomian Lokal Mati Suri

Pedagang keliling berhenti

Angkutan umum tidak beroperasi

Petani tak bisa mengangkut hasil panen

Pasokan sayuran dan kebutuhan pokok menurun

Harga beberapa komoditas naik 10–15%

4. Layanan Pemerintah Terganggu

Kendaraan dinas kesulitan bergerak untuk meninjau kerusakan atau memobilisasi bantuan.

Dua krisis ini saling memperburuk situasi—ketika satu terhambat, yang lainnya ikut terganggu.

Akar Masalah: Tiga Sinyal Awal Penyebab Kelangkaan

Investigasi awal menemukan tiga penyebab potensial tanpa mengaitkan langsung pada pola perdagangan SPBU, sesuai permintaan bos ku sebelumnya.

A. Gangguan Distribusi Regional

Meski pasokan nasional aman, distribusi ke wilayah Tapanuli sempat tidak stabil karena situasi infrastruktur pascabencana, keterlambatan armada, serta hambatan jalur tertentu.

B. Efek Ikutan Bencana Alam

Akses jalan yang sempat terputus menyebabkan keterlambatan pengiriman BBM, terutama untuk wilayah pegunungan Humbang Hasundutan.

C. Lonjakan Permintaan Mendadak Akibat Krisis

Warga, relawan, pemerintah, dan kendaraan berat semuanya memerlukan BBM dalam waktu bersamaan. Permintaan melonjak, sementara alokasi harian tetap.

Hasilnya: kompresi kebutuhan yang tidak dapat ditampung kapasitas distribusi.

Dampak Psikologis: Kepanikan Senyap di Tengah Dua Luka

Bagi warga, kelangkaan BBM bukan sekadar soal kendaraan tidak bergerak—ini tentang hilangnya kepastian hidup.

“Kalau longsor kami masih bisa gotong royong. Kalau BBM hilang berhari-hari, ekonomi kami mati,” kata seorang pedagang sayur di Doloksanggul.

Saat bantuan harus dikirim, bahan bakar habis.
Saat warga hendak bekerja, tangki kosong.
Saat trauma bencana belum sembuh, krisis baru justru lahir.

Solusi Mendesak: Pemerintah Pusat Harus Turun Tangan

Untuk menghentikan spiral krisis, laporan lapangan merekomendasikan:

1. Audit distribusi BBM Sumut secara menyeluruh

2. Penambahan pasokan darurat untuk wilayah bencana

3. Jalur distribusi khusus prioritas untuk kendaraan SAR dan logistik

4. Pengaturan kuota musiman untuk wilayah pertanian pegunungan

5. Koordinasi pemerintah daerah–Pertamina–BNPB secara real time

Dua Luka di Jantung Tapanuli

Longsor merusak jalan dan jembatan.
Kelangkaan BBM merusak nafkah dan kehidupan.

Jika satu tidak segera ditangani, luka lainnya akan terus melebar.
Dan ribuan warga di dua kabupaten ini hanya meminta satu hal:
kehadiran negara yang cepat, tepat, dan tanggap.

Redaktur: ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *