Gerakan Empati dari Taput: Ketika IPSM dan PSM Menjadi Penjaga Mata Air Kebahagiaan

Tarutung — Senin 17 November 2025 Ribaknews.id

Di antara hiruk pikuk Sopo Partungkoan Tarutung pada Senin pagi (17/11/2025), ada suasana yang berbeda. Bukan sekadar seremonial pelantikan, tetapi sebuah momentum yang terasa hangat: lahirnya “keluarga besar” baru bagi masyarakat Tapanuli Utara—Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) dan para Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) periode 2025–2030.

Wajah-wajah para PSM yang duduk berjajar tampak sederhana, namun di balik itu tersimpan harapan besar. Harapan bahwa pekerjaan sosial bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati. Dan pagi itu, gairah pelayanan terasa benar-benar hidup.

Benih Gerakan Sosial yang Tumbuh dari Empati

Ketua TP PKK Tapanuli Utara, Ny. Neny Angeloina JTP Hutabarat—yang juga menjadi penggerak awal terbentuknya IPSM Taput—berbicara dengan suara penuh kehangatan. “Aku adalah kamu, kamu adalah kita,” ucapnya, mengundang keheningan sesaat. Sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam: bahwa di balik setiap kebutuhan sosial, selalu ada kemanusiaan yang harus disentuh.

Ia tidak hanya berbicara sebagai istri seorang bupati, tetapi sebagai perempuan yang melihat langsung realitas di desa-desa. Realitas tentang keluarga yang berjuang dalam diam, anak-anak yang membutuhkan pendampingan, lansia yang hidup sendiri, hingga warga kurang mampu yang kadang malu meminta bantuan.

“PSM bekerja dengan kerinduan agar saat mereka bertemu masyarakat, masyarakat merasakan kebahagiaan… Mari kita ubah air mata menjadi mata air kebahagiaan,” ucapnya. Kalimat itu menjadi semacam doa bersama untuk seluruh PSM.

Dukungan Pusat: Taput Dianggap Punya Energi Kemanusiaan yang Kuat

Hadirnya Dirjen Pemberdayaan Sosial Kemensos RI, Radik Karsadiguna, menunjukkan bahwa pemerintah pusat melihat Taput sebagai daerah yang serius membangun sistem pelayanan sosial. Ia menjelaskan bahwa idealnya tiap desa memiliki tiga hingga lima PSM aktif, agar pelayanan sosial berjalan cepat dan tepat.

“PSM adalah garda terdepan. Mereka sangat membantu tugas pemerintah,” ujarnya.

Kata-kata itu menjadi legitimasi penting: bahwa PSM bukan relawan biasa, melainkan bagian dari arsitektur pelayanan sosial nasional. Taput pun berpeluang menjadi daerah percontohan, terutama jika jumlah dan kualitas PSM terpenuhi.

Ketua IPSM Sumut Muchrid Nasution turut menambahkan bahwa selama 50 tahun, IPSM menjadi tulang punggung penanganan masalah sosial. Saat ia menyebut tagline Taput—marTuhan, marroha, marbisuk—hadirin tersenyum. Nilai budaya lokal ternyata selaras dengan semangat pelayanan sosial itu sendiri.

Sentuhan Bupati: Pelayanan Sosial sebagai Tugas Cinta Kasih

Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar P. Hutabarat, berbicara dengan nada yang lugas namun penuh empati. Baginya, PSM bukan sekadar “tenaga bantu”, tetapi kepanjangan tangan pemerintah di titik-titik di mana negara sering kali tidak mampu hadir.

“Kehadiran pemerintah memiliki keterbatasan untuk menyentuh langsung masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, kami sangat bersyukur IPSM dikukuhkan hari ini,” katanya.

Ia juga membuka ruang kemungkinan pemberian hibah untuk menunjang kinerja IPSM dan PSM—sebuah sinyal bahwa pemerintah tidak ingin gerakan sosial ini berjalan tanpa daya dukung.

Ada satu pesan Bupati yang terasa menampar realitas: ajakan agar penerima bantuan tidak terlibat judi online atau penggunaan uang secara tidak produktif. Ini menunjukkan bahwa problem sosial hari ini tidak hanya soal kemiskinan fisik, tetapi juga kemiskinan moral dan literasi finansial.

“PSM harus menjadi garda terdepan memvalidasi data masyarakat. Pastikan bantuan tepat sasaran,” tegasnya.

PSM: Menjahit Luka Sosial, Menyalakan Harapan Baru

Di akhir acara, ketika ratusan PSM berdiri bersama, suasananya hampir seperti upacara pelantikan sebuah keluarga besar. Mereka berasal dari latar belakang berbeda—guru honorer, tokoh masyarakat, kader desa, aktivis gereja—tetapi punya tujuan yang sama: hadir bagi mereka yang terpinggirkan.

Pada akhirnya, pengukuhan IPSM dan PSM ini adalah upaya membangun ekosistem sosial berbasis empati. Ekosistem yang tidak hanya mengandalkan birokrasi, tetapi menyentuh hati manusia melalui hati manusia lainnya.

Bupati menutup kegiatan dengan kalimat yang mungkin paling menggambarkan semangat hari itu:
“Tiada hari tanpa pengabdian.”

Dan bagi PSM Taput, pengabdian itu bukan slogan. Itu adalah cara hidup.

📝Redaksi:
ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *