Dorong Identitas “Harangan Tapanuli”, Taput Bangun Gerakan

Pendekatan budaya dan edukasi generasi muda jadi kunci memperkuat konservasi habitat orangutan Tapanuli.

TARUTUNG — Rabu 08 April 2026. Ribaknews.id

Upaya pelestarian ekosistem Batang Toru kini tidak hanya difokuskan pada aspek teknis pemetaan, tetapi juga mulai diarahkan pada pembangunan identitas kolektif masyarakat melalui penguatan nama “Harangan Tapanuli”.

Gagasan ini mengemuka dalam Workshop Pemetaan Potensi Areal Konservasi yang digelar Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bersama Kementerian Kehutanan di Tarutung, Rabu (8/4/2026).

Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan, menilai bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan emosional dan kultural dinilai menjadi strategi penting dalam menjaga kelestarian hutan.

“Ketika masyarakat merasa memiliki, maka upaya menjaga hutan tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari identitas,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan istilah “Harangan Tapanuli” bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan langkah membangun kesadaran kolektif lintas wilayah, termasuk Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah.

Pendekatan ini juga diperkuat dengan rencana menghadirkan simbol-simbol konservasi di ruang publik, khususnya yang menyasar generasi muda. Edukasi berbasis visual dan budaya dinilai lebih efektif dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Salah satu simbol yang didorong adalah Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), satwa endemik yang kini berada di ambang kepunahan dan menjadi ikon penting ekosistem Batang Toru.

Perwakilan Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, Dewi Sulastri Ningsih, menegaskan bahwa kawasan Batang Toru memiliki nilai konservasi tinggi di tingkat global.

Ia menyebutkan bahwa lebih dari separuh ekosistem tersebut berada di wilayah Tapanuli Utara, sehingga sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian.

“Ini bukan hanya soal menjaga hutan, tetapi menjaga keberlangsungan spesies yang sangat langka di dunia,” katanya.

Workshop ini menjadi bagian dari langkah awal dalam menyusun basis data konservasi yang komprehensif. Ke depan, hasil pemetaan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan konkret dan gerakan bersama lintas sektor.

Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan kultural, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara optimistis upaya konservasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan.

Diterbitkan Media Ribak News ID
Penulis/Redaktur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *