Humbang Hasundutan — Senin 01 November 2025 Ribaknews.id
Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan P. Nababan, S.H., M.H., memimpin langsung operasi pembersihan material longsor pada ruas jalan Pakkat Hauagong hingga Desa Rura Tanjung, Senin (1/12/2025). Longsor yang terjadi akibat hujan intensitas tinggi sejak akhir pekan membuat jalur penghubung antarwilayah ini tertutup total oleh tumpukan tanah, akar, dan vegetasi yang menimbun badan jalan.
Sejak pagi, alat berat dikerahkan untuk melakukan evakuasi material dan membuka satu lajur agar mobilitas warga dapat pulih secara bertahap. Keberadaan Bupati di lokasi memastikan seluruh proses berjalan cepat, terkoordinasi, dan mengutamakan keselamatan masyarakat.
Respons Cepat Pemerintah Daerah
Operasi pembersihan dimulai begitu laporan warga diterima melalui perangkat desa dan BPBD. Dalam waktu singkat, Bupati Oloan Nababan menginstruksikan Dinas PUPR, BPBD, Camat setempat, serta perangkat keamanan untuk turun ke lokasi. Kehadiran orang nomor satu di Pemkab Humbang Hasundutan menunjukkan respons cepat pemerintah dalam menangani bencana hidrometeorologi yang kembali menghantam wilayah tersebut.
Dalam arahannya kepada petugas lapangan, Bupati menyampaikan bahwa pemulihan akses jalan harus menjadi prioritas utama mengingat jalur Pakkat–Rura Tanjung merupakan rute vital bagi aktivitas warga, distribusi pangan, akses pendidikan, hingga mobilitas layanan kesehatan.
“Kami akan terus bekerja keras untuk memulihkan akses jalan dan memastikan keselamatan masyarakat,” ujar Bupati Oloan P. Nababan di sela-sela peninjauan alat berat yang mengangkut material longsor.
Kondisi Lapangan: Material Tebal dan Risiko Susulan
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa material longsor cukup tebal, terdiri dari bongkahan tanah basah, akar pohon besar, dan gumpalan vegetasi semak yang terbawa arus lumpur. Sejumlah warga terlihat menonton proses evakuasi dari pinggir jalan, sementara aparat melakukan himbauan agar masyarakat menjaga jarak demi keamanan.
Backhoe loader yang dikerahkan bekerja mengangkat material sedikit demi sedikit untuk menghindari kerusakan permukaan jalan. Meski demikian, petugas PUPR menyebutkan bahwa proses pembersihan masih harus dilakukan hati-hati karena potensi longsor susulan tetap ada, terutama jika hujan kembali turun dalam beberapa jam ke depan.
Petugas BPBD juga tengah melakukan pemetaan cepat titik-titik rawan di sepanjang lereng jalan, guna memastikan bahwa lokasi serupa tidak kembali mengalami pergeseran tanah.
Pengamanan dan Mitigasi di Lokasi Kejadian
Dinas Perhubungan, aparat Polres Humbang Hasundutan, dan Satpol PP ikut terlibat dalam pengaturan lalu lintas darurat di lokasi. Hingga siang hari, jalur masih ditutup total untuk kendaraan roda empat dan hanya dibuka secara terbatas bagi pejalan kaki yang membutuhkan akses mendesak.
Selain pembersihan jalan, pemerintah daerah juga bekerja pada aspek mitigasi cepat—termasuk membersihkan drainase yang tersumbat dan memastikan aliran air tidak kembali mengarah ke badan jalan.
“Setelah akses terbuka, kami akan lanjut mengerjakan penguatan tebing dan drainase darurat agar jalur ini lebih aman,” ujar salah satu pejabat teknis PUPR di lokasi.
Keterlibatan Warga dan Pemerintah Desa
Warga Desa Rura Tanjung mengapresiasi kehadiran pemerintah daerah yang turun langsung. Beberapa warga menyampaikan bahwa longsor terjadi mendadak saat hujan lebat mengguyur pada malam hari, membuat jalan tertutup sebelum subuh.
Perangkat desa dan masyarakat setempat turut membantu dengan menyingkirkan ranting ringan serta memberi informasi kepada petugas terkait kondisi lereng yang sebelumnya sudah menunjukkan retakan.
“Kami sangat terbantu dengan kedatangan alat berat. Kalau manual tidak mungkin bisa kami bersihkan,” ujar seorang warga yang rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor.
Pentingnya Penanganan Jangka Panjang
Di balik operasi pembersihan ini, terdapat pekerjaan besar yang menunggu pemerintah daerah: mitigasi jangka panjang. Beberapa titik di jalur Pakkat hingga Rura Tanjung merupakan kawasan rawan geser yang setiap tahun terkena dampak hujan deras. Penguatan sisil jalan, perbaikan sistem drainase, dan reboisasi lereng menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana besar pengendalian bencana.
Para ahli BPBD menekankan bahwa perubahan pola curah hujan akibat fenomena iklim ekstrem membuat wilayah pegunungan seperti Humbang Hasundutan semakin rentan terhadap longsor.
Karena itu, pemerintah daerah diminta memperbarui peta rawan bencana dan memasang penanda permanen serta alat pemantau sederhana di titik-titik kritis.
Imbauan Resmi Kepada Pengguna Jalan
Bupati Oloan Nababan kembali mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan tidak memaksakan diri melintas sebelum jalur dinyatakan aman oleh petugas. Bagi pengendara roda dua dan roda empat, disarankan menunda perjalanan apabila tidak mendesak.
“Kami berharap masyarakat mengutamakan keselamatan. Petugas akan terus bekerja sampai jalur ini benar-benar aman,” tegas Bupati.
BPBD juga mengimbau warga untuk segera melaporkan apabila melihat retakan tanah baru, pergeseran pohon besar, atau aliran air yang tidak biasa di sekitar permukiman.
Keseriusan Pemerintah Daerah Menghadapi Bencana Hidrometeorologi
Wilayah Humbang Hasundutan dalam beberapa minggu terakhir mengalami hujan intensitas tinggi. Beberapa kecamatan lain bahkan telah melaporkan genangan, banjir kecil, dan potensi longsor. Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.
Dengan turun langsung ke lapangan, Bupati menegaskan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Kehadiran pemimpin di saat krisis juga menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak membiarkan warga menghadapi bencana sendirian.
Jonaer Silaban
Diterbitkan: ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya.








