Humbang Hasundutan, Sabtu 06 Desember 2025 Ribaknews.id
Gelombang banjir dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatra sejak akhir November 2025 disebut para analis kebencanaan sebagai salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam dua dekade terakhir. Intensitas hujan ekstrem, laju deforestasi di wilayah hulu, dan struktur geologis pegunungan Bukit Barisan menjadi kombinasi fatal yang memicu kerusakan luas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Total 836 orang dilaporkan meninggal, 2.700 luka berat, dan 509 warga masih hilang. Sebanyak 1,47 juta jiwa terdampak langsung oleh krisis ini. Di Sumatera Utara, 309 warga meninggal, 165 hilang, sementara ratusan infrastruktur rusak: 271 jembatan putus, 282 sekolah roboh, serta ribuan rumah hanyut atau terendam.
Humbang Hasundutan Salah Satu Wilayah Terpukul
Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) turut merasakan dampak paling signifikan. Sebanyak 9 warga meninggal dunia, puluhan rumah rusak berat, dan beberapa desa terisolasi akibat longsor yang memutus akses jalan. Topografi Humbahas dengan kemiringan lereng curam menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah saat curah hujan ekstrem.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Humbang Hasundutan bertindak cepat untuk memotong potensi penambahan korban. Seluruh jejaring kesehatan, mulai dari puskesmas, rumah sakit, tenaga surveilans epidemiologi, hingga unit kesehatan lingkungan, langsung diaktifkan sejak dimulainya status darurat.
Respon Medis Cepat Berbasis Epidemiologi
Kepala Dinas Kesehatan Humbang Hasundutan, Alexander Gultom, menegaskan bahwa fase pascabencana merupakan masa paling kritis bagi kesehatan masyarakat. “Fase pascabencana adalah masa paling rawan. Kami wajib mencegah munculnya korban tambahan akibat penyakit,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa layanan kesehatan tidak hanya berfokus pada penanganan luka, tetapi lebih luas: pencegahan wabah, pemulihan sanitasi, edukasi kesehatan, dan pendampingan kesehatan jiwa bagi kelompok rentan.
Medan sulit tidak menghentikan gerak tim medis. Pada desa yang aksesnya terputus, tenaga kesehatan menempuh jalur darat dengan berjalan kaki membawa obat-obatan dan peralatan dasar. “Tidak boleh ada satu pun warga yang luput dari layanan medis,” tegas Alexander.
Data Penanganan Kesehatan Hingga 5 Desember 2025
Dinas Kesehatan Humbahas mencatat perkembangan penanganan sebagai berikut:
1.284 warga menjalani pemeriksaan kesehatan
652 warga dengan luka ringan hingga sedang berhasil ditangani
118 kasus ISPA, diare, dan infeksi kulit mendapatkan penanganan khusus
38 ibu hamil menjalani pemeriksaan darurat
12 pasien dirujuk ke RSUD Doloksanggul karena kondisi berat
Langkah pencegahan wabah dilakukan secara paralel. Dinas Kesehatan mendistribusikan:
3.200 tablet penjernih air
430 paket alat kebersihan keluarga
Edukasi intensif bertema “Air Bersih Aman” di pusat pengungsian
Alexander menegaskan bahwa banjir meninggalkan lingkungan sarat bakteri dan virus yang dapat memicu lonjakan penyakit jika tidak ditangani cepat.
Dampak Psikologis Tidak Diabaikan
Selain kerusakan fisik, bencana juga melahirkan luka psikologis yang tidak kalah serius. Dinkes Humbahas menerjunkan tenaga kesehatan jiwa untuk mendampingi:
Anak-anak yang kehilangan rumah
Lansia yang mengalami shock
Keluarga korban meninggal atau hilang
“Banyak warga mengalami ketakutan berlebih. Kami hadir agar mereka tidak berjuang sendiri,” ujar Alexander.
Koordinasi Lintas Sektor Menjaga Stabilitas Bantuan
Untuk memastikan alur bantuan tetap stabil dan tidak terputus, Dinas Kesehatan memperkuat koordinasi dengan BNPB, BPBD Sumut, Kementerian Kesehatan, TNI–Polri, relawan serta lembaga kemanusiaan. Bantuan seperti obat-obatan, makanan bergizi, selimut, tenda, dan air bersih terus disuplai ke titik-titik terdampak.
Alexander memastikan bahwa pelayanan kesehatan akan terus berjalan sepanjang masa pemulihan. “Kami mengajak warga Humbahas menjaga kebersihan, mengikuti arahan tenaga medis, dan segera melapor jika mengalami gejala penyakit. Kita kuat karena saling menjaga,” imbuhnya.
Humbahas Bangkit dengan Pendekatan Ilmiah dan Humanis
Dengan gerak cepat, koordinasi lintas lembaga, dan pendekatan medis yang sistematis, Kabupaten Humbang Hasundutan berupaya memastikan seluruh warganya tidak hanya selamat dari dampak fisik bencana, tetapi juga terlindungi dari ancaman epidemiologis selama masa pemulihan.
Jonaer Silaban







