Bencana Banjir dan Longsor Humbang Hasundutan Memasuki Hari Pamungkas

Operasi SAR Resmi Ditutup, Satu Korban Masih Dicari

Humbang Hasundutan – Selasa 02 Desember 2025 Ribaknews.id

Memasuki hari ke-7 atau hari pamungkas masa tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan merilis laporan perkembangan penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda sejak 25 November 2025. Data terbaru per 02 Desember 2025 pukul 17.00 WIB menunjukkan sebagian besar operasi penyelamatan telah tuntas, meski satu korban masih dinyatakan hilang dan proses pencarian tetap dilanjutkan oleh unsur gabungan.

Korban Jiwa: Satu Ditemukan, Satu Masih Hilang

Pada Selasa (2/12/2025), tim SAR kembali menemukan satu korban jiwa di kawasan Lumban Sihotang, Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat. Penemuan ini dilakukan menjelang berakhirnya masa operasi resmi. Setelah penemuan tersebut, tersisa satu korban yang belum ditemukan, yakni Roy Simanullang (19), warga Desa Pulo Godang.

Sebagai bentuk penghormatan, pihak keluarga bersama pemerintah serta unsur gerejawi telah melaksanakan sakramen dan tabur bunga bagi korban yang masih hilang. Seluruh korban meninggal lain telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan sesuai adat dan keyakinan masing-masing.

Penutupan operasi SAR tidak serta-merta menghentikan aktivitas pencarian. Meski apel penutupan dilakukan secara resmi di lokasi bencana Desa Panggugunan, tim gabungan tetap melanjutkan pencarian terbatas untuk mengupayakan temuan korban terakhir sebelum seluruh alat berat dan personel ditarik bertahap.

Kerusakan Pendidikan: Enam Sekolah Terdampak, KBM Terganggu Serius

Dampak bencana yang paling mencolok di sektor pendidikan tercatat pada enam UPT sekolah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat. Sekolah-sekolah tersebut meliputi:

UPT SD Negeri 120 Batu Nagodang Siatas, Onanganjang

UPT SMP Negeri 030 Purba Baringin, Pakkat

UPT SD Negeri 105 Onan Ganjang

UPT SD Negeri 163 Manalu, Pakkat

UPT SD Negeri 161 Karya, Pakkat

UPT SD Negeri 158 Purba Baringin, Pakkat

Kerusakan ini berdampak langsung pada proses belajar-mengajar, terutama bagi siswa usia sekolah dasar di wilayah Pakkat, Onan Ganjang, dan Onanganjang. Material lumpur, kayu besar, serta kerusakan ruang kelas menyebabkan kegiatan belajar harus dihentikan sementara.

Pemkab Humbahas melalui Dinas Pendidikan tengah menyiapkan skema kelas darurat, relokasi sementara ke sekolah terdekat, dan dukungan psikososial untuk memastikan anak-anak tidak mengalami keterlambatan belajar yang berkepanjangan.

Lima Gereja Rusak: Aktivitas Keagamaan Terdampak

Di sektor keagamaan, total lima rumah ibadah dilaporkan rusak akibat terjangan banjir bandang dan longsor. Rinciannya sebagai berikut:

Gereja GJAI Sibanbanon – Desa Karya

Gereja HKI Jagapayung – Desa Purba Sianjur

Gereja Advent – Desa Peadungdung

Gereja Tabernakel – Desa Parbotihan

Gereja GKLI Bantoon – Desa Sionom Hudon VII (rusak ringan)

Bagi masyarakat pedesaan di Humbang Hasundutan, gereja bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial, pertemuan komunitas, dan lokasi penyelenggaraan bantuan. Kerusakan ini dipastikan berdampak signifikan terhadap aktivitas rutin jemaat serta menghambat pendistribusian logistik yang sebelumnya memanfaatkan rumah ibadah sebagai pos sementara.

Penanganan Korban Luka: RSUD Doloksanggul Tetap Optimal

RSUD Doloksanggul melaporkan penanganan terhadap 11 korban luka akibat bencana ini. Kondisi terkini menyebutkan:

7 pasien telah dipulangkan,

1 pasien masih dirawat,

1 pasien dirujuk ke RS Vita Insani,

2 pasien menjalani rawat jalan.

Meski berada dalam situasi darurat, layanan kesehatan tetap berjalan optimal. Petugas medis telah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan, termasuk perawatan trauma dan tindakan observasi terhadap gejala lanjutan.

Operasi SAR Hari ke-7: Ditutup Secara Resmi, Lapangan Masih Bergerak

Operasi pencarian dan pertolongan yang berlangsung seminggu penuh dikerahkan melalui kolaborasi:

BPBD Humbang Hasundutan
Basarnas
TNI
Polri
Unsur masyarakat setempat

Mulai dari pencarian manual, penggunaan alat berat, hingga penyisiran di area sungai dan areal longsoran, seluruh metode telah dilakukan. Tingginya curah hujan, labilnya struktur tanah, serta medan curam membuat proses pencarian berlangsung penuh tantangan.

Meski apel gabungan penutupan operasi telah dilaksanakan, pihak berwenang masih membuka peluang pencarian lanjutan dalam skala terbatas selama 1–2 hari ke depan, terutama pada titik yang memiliki indikasi kuat keberadaan korban.

Dampak Sosial dan Ekonomi: Mobilitas Terganggu, Warga Trauma

Selain korban dan kerusakan fisik, bencana ini meninggalkan dampak psikologis dan sosial yang cukup berat. Banyak warga kehilangan rumah, harta benda, dan akses terhadap kebutuhan dasar. Sebagian akses jalan masih tertutup material, menyebabkan pasokan logistik dan kegiatan ekonomi melambat.

Di sejumlah wilayah, warga juga mengeluhkan potensi kelangkaan BBM, naiknya harga bahan pokok, dan terputusnya jalur transportasi pedesaan yang menjadi penghubung aktivitas ekonomi masyarakat.

Dinas Sosial, Tagana, instansi gereja, serta para relawan terus mendampingi warga melalui layanan psikososial dan distribusi bantuan pangan.

Imbauan Pemerintah: Tingkatkan Kewaspadaan

Pemkab Humbang Hasundutan mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, mengingat curah hujan tinggi masih terjadi di sebagian besar wilayah pegunungan.

Pemerintah juga meminta masyarakat segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban hilang maupun perubahan kondisi geologi seperti retakan tanah atau suara runtuhan dari perbukitan.

Dengan berakhirnya masa tanggap darurat, pemerintah akan memasuki fase berikutnya yakni rehabilitasi dan rekonstruksi, yang meliputi pemulihan sekolah, gereja, rumah warga, infrastruktur jalan, serta penguatan mitigasi bencana pada kawasan rawan.

Jonaer Silaban
Diterbitkan: ribaknews.id — Aktual, Kritis, dan Terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *